Ruangrakyatgarut.id 25 April 2026 – Penyelenggaraan Gebyar Pesona Seni Budaya Kabupaten Garut (GPBG) 2026 menuai sorotan dari kalangan pelaku seni. Kritik mencuat setelah dinilai belum optimal dalam melibatkan seniman lokal pada puncak acara.
Ketua Persatuan Artis Seni dan Kreativitas Indonesia (PASKI) Garut, Kang Nunuy, menjadi salah satu pihak yang menyampaikan keberatan tersebut. Ia menilai panggung utama justru tidak diisi oleh seniman daerah yang memiliki rekam jejak prestasi.
Menurutnya, banyak seniman dan seniwati asal Garut yang telah berkiprah di tingkat regional hingga nasional, namun tidak mendapatkan ruang tampil dalam acara yang membawa nama budaya daerah tersebut.
“Kami melihat belum ada keterwakilan seniman lokal berprestasi di panggung utama. Ini menjadi catatan penting,” ujarnya dalam keterangan yang diterima.
Selain itu, ia juga menyoroti komposisi pertunjukan yang dinilai lebih didominasi oleh kesenian modern, seperti rap dan hip-hop, serta kehadiran kelompok seni dari luar daerah.
Kondisi tersebut dinilai kurang sejalan dengan semangat pelestarian budaya lokal yang seharusnya menjadi inti dari kegiatan bertajuk seni budaya daerah.
Ia menegaskan bahwa sebagai event yang mengusung identitas budaya Garut, seharusnya GPBG memberikan ruang prioritas kepada potensi seni lokal sebagai bentuk apresiasi dan pemberdayaan.
Lebih lanjut, Kang Nunuy menekankan pentingnya prinsip keadilan dalam penyelenggaraan kegiatan budaya, terutama dalam proses penentuan pengisi acara.
Menurutnya, mekanisme kurasi yang transparan dan inklusif menjadi kunci agar seluruh pelaku seni memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi.
Ia juga mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan GPBG 2026 agar ke depan dapat lebih mencerminkan kekayaan budaya daerah.
Meski demikian, ia tetap mengapresiasi upaya penyelenggaraan event budaya berskala besar sebagai bagian dari promosi daerah dan penguatan sektor pariwisata.
Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara GPBG 2026 belum memberikan keterangan resmi terkait kritik yang berkembang. Publik pun menantikan klarifikasi serta langkah perbaikan ke depan.
