Ruangrakyatgarut.id 26 April 2026 – Meski jadwal Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Garut masih menunggu keputusan DPD Golkar Jawa Barat, dinamika politik internal partai berlambang beringin itu mulai terasa. Sejumlah nama calon Ketua DPD Golkar Garut periode mendatang telah bermunculan, bahkan sebagian di antaranya mengklaim telah mengantongi dukungan dari Pengurus Kecamatan (PK).
Selain mengandalkan dukungan struktural, ada pula kandidat yang disebut-sebut menunggu diskresi dari Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, sebagai jalan untuk memperkuat peluang dalam kontestasi.
Beberapa figur yang digadang-gadang maju di antaranya Euis Ida Wartiah (Ketua DPD Golkar Garut), Aris Munandar (Ketua DPRD Garut), Deden Sofian (mantan anggota DPRD Garut tiga periode), Fahad Fauzi (Ketua DPD AMPI Garut sekaligus anggota DPRD Garut), serta Abdusy Syakur Amin yang saat ini menjabat Bupati Garut.
Khusus untuk Abdusy Syakur Amin, peluang pencalonannya masih bergantung pada diskresi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. Pasalnya, salah satu syarat pencalonan mengharuskan kandidat telah menjadi pengurus partai minimal satu periode.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, seluruh nama memiliki peluang yang relatif terbuka. Bahkan, Euis Ida Wartiah disebut berupaya merangkul seluruh kandidat sebagai bagian dari strategi menjaga soliditas dan kondusivitas partai menjelang Musda.
Di sisi lain, masing-masing kandidat mulai intens melakukan konsolidasi politik. Euis Ida Wartiah terus menggalang dukungan dari PK yang menjadi pemilik suara utama dalam Musda. Langkah serupa juga dilakukan Aris Munandar dan Deden Sofian. Sementara itu, Fahad Fauzi dikabarkan telah lebih dulu melakukan konsolidasi di tingkat kecamatan.
Adapun Abdusy Syakur Amin menghadapi tantangan tersendiri dalam upaya memperoleh restu dari DPP. Diskresi pusat menjadi faktor kunci yang akan menentukan apakah dirinya dapat masuk dalam bursa secara resmi.
Secara analitis, posisi Euis Ida Wartiah sebagai ketua petahana memberikan keuntungan politik tersendiri. Upaya merangkul seluruh calon dinilai bukan sekadar menjaga harmoni internal, tetapi juga berpotensi menjadi strategi bargaining politik, termasuk membuka jalan bagi figur tertentu.
Di tengah peta persaingan tersebut, faktor demografi pemilih menjadi variabel penting. Dominasi pemilih dari kalangan milenial dinilai dapat memengaruhi arah dukungan politik ke depan, termasuk dalam menentukan figur yang dianggap representatif dan memiliki daya tarik elektoral.
Sejauh ini, tiga nama dinilai menguat dalam bursa, yakni Euis Ida Wartiah, Aris Munandar, dan Abdusy Syakur Amin. Namun, dinamika politik internal partai tak pernah lepas dari kemungkinan munculnya “kuda hitam”. Nama Fahad Fauzi disebut sebagai salah satu figur yang patut diwaspadai.
Sementara itu, arah dukungan dari Fraksi Golkar DPRD Garut yang dipimpin Iman Alirahman masih belum terlihat jelas. Padahal, posisi fraksi dinilai strategis dalam menjembatani kepentingan partai dengan eksekutif, sekaligus dapat menjadi faktor penentu dalam konstelasi politik menuju Musda.(***)
