Oleh: Ahirudin Yunus, S.Fil
(Wakil Sekretaris II Pengurus Pusat Santri Pasundan)
Ruangrakyatgarut.id 21 Oktober 2026 – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) setiap tanggal 22 Oktober telah menjadi kalender liturgi kebangsaan yang dirayakan secara masif di seluruh penjuru Indonesia. Penetapannya berakar pada peristiwa bersejarah 22 Oktober 1945, ketika KH. Hasyim Asy’ari mencetuskan Resolusi Jihad, sebuah fatwa keagamaan yang memantik perlawanan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya.
Namun, seiring berjalannya waktu dan makin derasnya arus arus kebudayaan kontemporer, perayaan HSN mengalami pergeseran makna yang mendasar. Peringatan yang mulanya lahir dari kehendak sejarah, nilai perlawanan, dan keikhlasan (ideologi) perlahan terdorong menjadi tontonan, estetika permukaan, dan konsumsi visual (imagogi). Fenomena ini yang dinilai menjadi sebuah keharusan untuk mengurai pergeseran nilai tersebut, untuk melihat bagaimana rasionalitas media dan kapitalisme lanjut mereduksi kesadaran sejarah menjadi sekadar selebrasi identitas.
Fondasi Ideologi: Resolusi Jihad dan Episteme Subjek Melawan
Dalam tinjauan historis, “santri” pada era 1945 bukan sekadar penanda identitas lahiriah, melainkan sebuah posisi subjek yang ideologis. Resolusi Jihad memuat jalinan erat antara doktrin eskatologis (akidah/fikh) dengan praksis politik-kebangsaan. Perjuangan santri digerakkan oleh narasi besar tentang keadilan, pembebasan dari kolonialisme, dan kewajiban mempertahankan tanah air (hubbul wathan minal iman). Tindakan politik bernilai ibadah, di mana matinya seseorang dalam pertempuran dipercayai sebagai syahid.
Praksis gerakan santri di masa revolusi berorientasi pada dampak material: mobilisasi massa, penyusunan strategi gerilya, dan pembelaan terhadap kaum tertindas (mustad’afin). Kedalaman ideologis ini menuntut pengorbanan jiwa-raga secara nyata, bukan citra atas pengorbanan.
Pergeseran Menuju Imagogi; Pembacaan Posmodernisme
Istilah imagogi merujuk pada kondisi kebudayaan di mana citra (image), tampilan, dan simbol menggeser kedudukan gagasan, ideologi, serta realitas empiris. Dalam ranah teori sosial posmodern, pergeseran Hari Santri dari ideologi ke imagogi dapat dianalisis melalui beberapa kerangka kritis.
Pertama, Simulakra dan Hiperealitas Santri. Analisa ini menyatakan bahwa dunia kontemporer dikuasai oleh simulacra, proses reproduksi tanda di mana batas antara realitas dan citra menjadi kabur, hingga citra mendahului dan menggantikan realitas itu sendiri (hyperreality). Sarung, peci, dan baju koko yang dahulu merupakan pakaian keseharian dan simbol kesederhanaan, kini diproduksi ulang sebagai tanda visual (sign-value) dan mengalami reduksi simbolik. Seseorang merasa telah “menjadi santri” atau “menghayati HSN” cukup dengan mengunggah foto berbusana muslim di media sosial. Perayaan HSN dipenuhi baliho raksasa, konten media sosial berfilter estetis, dan parade seremonial. Tanda-tanda ke-santri-an ini terlepas dari referen historisnya (etos keprihatinan, penguasaan turats, dan keberanian melawan penindasan). Hari Santri menjadi petanda yang mengambang.
Analisa kedua, penegasan bahwa dalam masyarakat kapitalis lanjut, seluruh kehidupan yang dahulu dialami secara langsung telah bergeser menjadi sekadar representasi atau tontonan (The Society of the Spectacle). Resolusi Jihad yang dahsyat dan berdarah-darah dikemas ulang menjadi karnaval, jalan sehat, dan pertunjukan seni hiburan. Peringatan sejarah kehilangan daya tawar kritisnya karena telah diubah menjadi peristiwa konsumsi visual yang menenangkan. Hal ini diiperparah dengan drama komodifikasi perayaan. Komodifikasi ini tidak hanya bersifat ekonomi (penjualan atribut perayaan), tetapi juga politik. Kehadiran elit politik di panggung HSN sering kali memanfaatkan spectacle tersebut untuk memanen modal simbolik dan membangun citra kesalehan politik.
Analisa ketiga, Pastiche dan Pudarnya Kesadaran Sejarah. Analisa ini mengidentifikasi salah satu ciri utama budaya posmodern adalah kedangkalan dan pudarnya rasa sejarah. Perayaan HSN kerap menampilkan peniruan gaya-gaya masa lalu (pastiche) tanpa disertai pemahaman mendalam atas konteks sosiologisnya. Narasi perjuangan dikutip secara fragmentaris untuk keperluan caption media sosial atau pidato seremonial, tanpa ada kehendak untuk mengkritisi struktur ketimpangan sosial hari ini.
Implikasi Sosiologis dan Epistemologis
Degradasi dari ideologi ke imagogi ini membawa beberapa konsekuensi serius bagi ekosistem keilmuan dan gerakan santri. Ketika citra lebih dihargai daripada isi, tradisi penguasaan risalah klasik, penalaran epistemologis fikh, dan analisis sosial kritis berisiko tergeser oleh pragmatisme media. Santri lebih sibuk mengelola tampilan luar ketimbang mengasah kedalaman pemikiran.
Perayaan yang berhenti pada tingkat imaji membuat komunitas kehilangan daya dorong untuk merespons persoalan riil di sekitar mereka, seperti krisis lingkungan hidup, penggusuran lahan, ketimpangan ekonomi, hingga disrupsi kecerdasan buatan.
Untuk menyelamatkan Hari Santri dari jebakan tontonan hampa, diperlukan upaya dekonstruksi dan merebut kembali (reclaiming) spirit dasar Resolusi Jihad dalam ruang kontemporer. Santri harus menolak ditempatkan sekadar sebagai “khalayak tontonan” atau “objek pencitraan”. Identitas santri harus dikembalikan sebagai posisi etis-intelektual yang berani mengkritik kekuasaan dan membela keadilan.
Jika jihad era 1945 adalah perlawanan fisik terhadap kolonialisme, maka jihad hari ini adalah jihad epistemik dan sosial: melawan kebodohan struktural, keterbelakangan teknologi, kerusakan ekologis, dan korupsi.
Kesimpulan
Kritik posmodernisme terhadap Hari Santri Nasional tidak bertujuan untuk menghapus peringatan bersejarah ini, melainkan sebagai alat otokritik (muhasabah) kebudayaan. Ketika Hari Santri terancam larut dalam gelombang simulakra dan tontonan imagogi, tugas kaum terpelajar dan elemen pesantren adalah menariknya kembali ke landasan ideologisnya yang kokoh.
Hari Santri hendaknya tidak dirayakan dengan memamerkan bungkus identitas, melainkan dengan membuktikan isi dari kesadaran kebangsaan dan kedalaman ilmu pengetahuan. Hanya dengan demikian, Hari Santri tetap menjadi ruang tuntunan yang menggerakkan, bukan sekadar panggung tontonan yang berlalu tanpa bekas.
