Ruangrakyatgarut.id — Dewan Tanfidzi Kabupaten (DTK) Persada 212 Garut siap menyelenggarakan agenda besar bertajuk “Dialog Multikultural: Menegakkan Kemanusiaan dan Keluhuran Moral Lintas Iman” pada Selasa, 13 Oktober 2026, bertempat di Gedung Pendopo Garut.
Acara berbentuk Simposium Lintas Iman dan Budaya ini dirancang khusus untuk membedah perspektif Filsafat Islam, Konfusianisme, Buddhisme, Katolik, hingga Kearifan Lokal Sunda. Fokus utamanya adalah merumuskan konsensus bersama dalam menjaga harmoni kemanusiaan serta menciptakan ruang aman bagi anak dari segala bentuk kekerasan.
Gelaran bernilai strategis ini direncanakan akan dibuka langsung secara resmi oleh Bupati Garut, serta menghadirkan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Garut sebagai Keynote Speaker yang akan memberikan paparan kunci mengenai peta jalan kerukunan beragama dan perlindungan generasi bangsa.
Ketua DTK Persada 212 Garut, Aam Moh. Jalaludin, M.Pd, menegaskan bahwa simposium ini merupakan respons konkret terhadap dinamika sosial yang terjadi di akar rumput. Menurutnya, isu-isu sensitif yang menyangkut kekerasan anak sering kali rentan digeser menjadi komoditas konflik SARA yang kontraproduktif.
“Kami ingin menggeser dan meluruskan narasi keliru yang berkembang di masyarakat. Kasus kekerasan atau kejahatan seksual terhadap anak adalah murni tindakan kriminalitas individu. Kejahatan tersebut sama sekali tidak mewakili, tidak diajarkan, dan tidak merepresentasikan nilai kesucian dari agama atau institusi mana pun,” ujar Aam Moh. Jalaludin, M.Pd dalam keterangan persnya, Sabtu (10/10/2026).
Simbol Harmoni: Pentas Kolaborasi Barongsai, Kendang Pencak, dan Marawis
Pesan perdamaian dan inklusivitas sudah akan digaungkan sejak menit pertama acara dimulai. Sebagai simbolisasi nyata dari bersatunya keberagaman di tanah Garut, prosesi pembukaan simposium akan menyuguhkan pentas seni kolaborasi lintas budaya. Pemirsa akan disuguhkan pertunjukan rampak terpadu yang memadukan kelincahan Barongsai (tradisi Tionghoa/Konfusianisme), hentakan dinamis Kendang Pencak (kearifan lokal Sunda), serta harmoni tabuhan Marawis (khazanah Islam).
Perpaduan ketiga kesenian ini menjadi refleksi visual dari konsep pluralisme yang diusung panitia: berbeda warna, namun menghasilkan satu simfoni yang indah dan selaras.
Pendekatan Pluralisme Dialogis dan Jangkar Budaya Sunda
Aam menjelaskan bahwa komposisi para pembicara dalam simposium ini menerapkan konsep filsafat pluralisme dialogis yang bersifat komplementer atau saling melengkapi. Narasi ini menempatkan para tokoh lintas agama sebagai empat pilar teologis yang berdiri menghadap dan membedah pusat masalah yang sama.
Menariknya, simposium ini memposisikan akademisi budaya Sunda sebagai jembatan realitas. “Kehadiran budayawan dan peneliti budaya Sunda dalam forum ini bertindak sebagai jangkar sosiologis. Tugasnya adalah membumikan nilai-nilai filsafat teologis yang tinggi ke dalam tanah realitas budaya lokal masyarakat Garut. Kami ingin pesan damai dan perlindungan anak ini menyentuh rasa serta kesadaran terdalam masyarakat akar rumput menggunakan filosofi Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh,” tambah Aam.
Target Konkret: Lahirkan SOP Perlindungan Anak
Lebih dari sekadar ruang diskusi, DTK Persada 212 Garut menargetkan luaran (output) kebijakan komunal yang aplikatif bagi seluruh masyarakat Garut. Forum ini ditargetkan mampu melahirkan dua dokumen penting:
- Pakta Integritas Bersama lintas pemuka agama dan budaya.
- Standar Operasional Prosedur (SOP) Bersama untuk aspek perlindungan anak, yang dikhususkan bagi lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan non-formal di wilayah Kabupaten Garut.
Simposium ini akan menghadirkan deretan panelis otoritatif, di antaranya Prof. Dr. H. Bambang Q. Anees (Ahli Filsafat Islam/Ketua Lakpesdam NU Jabar), Erwindy Fayan Leonardus Lius (Cendekiawan MATAKIN), Perwakilan Cendekiawan Buddha WALUBI Jabar, Drs. Ahmad Gibson Albustomi, M.Ag. (Peneliti Senior Filsafat Agama & Budaya Sunda), KH. Rd. Abdul Qohar Al-Qodsy (Ketua DTN Persada 212 Periode 2022-2024), serta Romo Wilfred Haripahlwan Angkasa, S.S., M.Hum., JCL. (Pastor Paroki Bunda Maria Garut), dengan dipandu oleh perwakilan FKUB Kabupaten Garut selaku moderator.
Melalui rilis ini, DTK Persada 212 Garut mengundang seluruh elemen masyarakat, akademisi, organisasi kemasyarakatan, serta media untuk bersama-sama mengawal jalannya simposium demi menegakkan keluhuran moral dan masa depan anak-anak di Kabupaten Garut.
