Ruangrakyatgarut.id 28 September 2026 — Semangat gotong royong dan kepedulian sosial kembali ditunjukkan oleh warga Desa Pakenjeng. Dari para penerima bantuan beras, terkumpul sedekah sebanyak 4.686 kilogram yang kemudian didedikasikan untuk membantu warga lain yang belum mendapatkan bantuan.
Inisiatif ini lahir dari kesadaran bersama bahwa di tengah keterbatasan, masih ada ruang untuk berbagi. Para penerima bantuan dengan sukarela menyisihkan sebagian beras yang mereka terima untuk diberikan kepada tetangga yang lebih membutuhkan.
Kepala Desa Pakenjeng, Sadam Sanjaya, menyebutkan bahwa semangat saling membantu di tengah masyarakat menjadi bukti nyata tumbuhnya kesadaran kolektif warga dalam menghadapi kondisi sosial yang belum merata.
“Ini adalah bentuk kepedulian warga. Mereka yang sudah menerima bantuan masih mau berbagi kepada yang belum. Ini menunjukkan kesadaran dan empati sosial yang sangat baik,” ujarnya.
Pengumpulan beras tersebut menjadi bukti bahwa solidaritas sosial di tingkat masyarakat masih terjaga. Nilai kebersamaan dan kepedulian terus hidup, terutama di saat kondisi ekonomi belum sepenuhnya merata.
Seluruh beras yang terkumpul akan disalurkan melalui RT dan RW setempat agar pendistribusian dapat berjalan lebih tepat sasaran dan merata kepada warga yang benar-benar membutuhkan.
Dalam proses penyaluran ini, terdapat kriteria yang menjadi acuan agar bantuan tidak salah sasaran. Bantuan tidak diperuntukkan bagi masyarakat dengan status pekerjaan sebagai kepala desa, perangkat desa, PNS, maupun pengusaha atau warga yang tergolong mampu.
Langkah ini diambil sebagai bentuk keadilan sosial agar bantuan benar-benar dirasakan oleh mereka yang berada dalam kondisi ekonomi terbatas dan belum tersentuh program bantuan yang ada.
Meski demikian, pihak penyelenggara tetap membuka ruang bagi masyarakat yang merasa layak menerima bantuan namun belum terdata. Warga dipersilakan untuk menghubungi pihak desa secara langsung atau melalui media sosial.
Gerakan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial tidak harus menunggu berlebih, tetapi tumbuh dari keikhlasan berbagi. Semangat “berbagi itu indah” kembali hidup di tengah masyarakat Desa Pakenjeng.
