Ruangrakyatgarut.id 08 juli 2026 – Rasa haru dan syukur tak terbendung dari Ibu Imas saat rumah yang selama ini ia tempati dalam kondisi memprihatinkan akhirnya dibangun menjadi layak huni. Dengan penuh khidmat, ia melakukan sujud syukur sebagai ungkapan terima kasih atas bantuan yang datang di saat yang paling dibutuhkan.
Perubahan besar itu terwujud berkat kepedulian sosial H. Dudung Sudiana melalui Yayasan Garut Berbagi Peduli (YGBP), yang konsisten hadir membantu masyarakat kecil yang membutuhkan perhatian nyata, bukan sekadar janji.
Selama bertahun-tahun, Ibu Imas harus bertahan hidup di rumah yang jauh dari kata layak. Atap bocor, dinding rapuh, serta kondisi bangunan yang membahayakan menjadi bagian dari kesehariannya. Namun kini, harapan itu hadir dan mengubah segalanya.
Peletakan batu pertama pembangunan rumah dilakukan langsung oleh H. Dudung Sudiana, disaksikan Camat Banyuresmi Drs. Heri Hermawan, jajaran Kapolsek dan Koramil Banyuresmi, Kepala Desa Pamekarsari, serta tokoh masyarakat setempat.
Pembangunan rumah tersebut bukan sekadar perbaikan fisik, melainkan simbol nyata kepedulian dan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Kehadiran YGBP menjadi bukti bahwa nilai gotong royong dan empati masih hidup dan mampu memberikan dampak langsung bagi warga yang membutuhkan.
Ibu Imas tak kuasa menahan air mata saat menyaksikan rumahnya mulai berdiri kokoh. Dalam sujudnya, tersimpan doa dan harapan agar setiap kebaikan yang diberikan mendapat balasan berlipat ganda.
Tak hanya itu, Yayasan Garut Berbagi Peduli (YGBP) juga menyalurkan bantuan sosial berupa paket sembako dan santunan uang kepada lansia serta anak yatim di sekitar RW 05, Desa Pamekarsari. Kegiatan ini semakin memperkuat makna kepedulian yang dihadirkan bagi masyarakat sekitar.
“Ini seperti mimpi bagi saya. Saya tidak pernah menyangka rumah saya bisa diperbaiki seperti ini,” ungkap Ibu Imas dengan suara bergetar.
Aksi kemanusiaan yang dilakukan H. Dudung Sudiana pun mendapat apresiasi dari warga sekitar. Mereka menilai langkah tersebut sebagai contoh nyata kepemimpinan sosial yang hadir langsung di tengah masyarakat.
Program bantuan rumah layak huni ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak warga yang mengalami kondisi serupa, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang tinggal di hunian yang tidak aman dan tidak layak.
Kisah Ibu Imas menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai persoalan sosial, masih ada tangan-tangan tulus yang bekerja dalam diam, membawa harapan, dan mengembalikan martabat sesama.
Kini, dengan penuh rasa syukur, Ibu Imas dapat menatap masa depan dengan lebih tenang—di rumah yang tak hanya menjadi tempat berteduh, tetapi juga simbol harapan baru dalam hidupnya.
