Ruangrakyatgarut.id 18 April 2026 – Seniman sketsa terapi Kang Destra Yana menghadirkan karya seni bertajuk “Anak Zaman yang Terluka” sebagai bentuk respons atas dinamika kebebasan berekspresi dan isu hak asasi manusia di Indonesia. Karya tersebut didedikasikan untuk aktivis HAM, Andrie Yunus, yang dikenal vokal dalam menyuarakan berbagai kasus pelanggaran HAM.
Melalui pendekatan visual dan sastra, Destra menggabungkan sketsa wajah dengan puisi reflektif yang menggambarkan luka, keberanian, dan daya tahan seorang aktivis di tengah tekanan. Ia menyebut karya ini lahir dari kegelisahan atas sejumlah peristiwa yang dinilai mengancam ruang kebebasan berpendapat di ruang publik.
Dalam keterangannya, Destra menilai bahwa kebebasan berbicara merupakan fondasi penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, ia melihat masih adanya tantangan serius ketika kritik dan suara-suara advokasi justru dihadapkan pada tekanan, bahkan tindakan kekerasan.
Ia juga menyinggung kasus yang menimpa aktivis dari KontraS yang diduga mengalami serangan fisik berupa penyiraman air keras oleh oknum aparat di Jakarta. Peristiwa tersebut menjadi salah satu latar yang memperkuat pesan dalam karya yang ia ciptakan.
Menurutnya, kejadian tersebut tidak hanya menyisakan luka fisik, tetapi juga menghadirkan pertanyaan besar mengenai perlindungan terhadap pembela HAM di Indonesia. Isu ini pun dinilai perlu mendapat perhatian lebih luas dari publik dan pemangku kepentingan.
Sosok Andrie Yunus sendiri dikenal aktif menyuarakan isu-isu HAM, baik melalui aksi langsung maupun platform digital. Kehadirannya di ruang publik kerap menjadi representasi dari suara kritis yang berupaya mendorong akuntabilitas dan keadilan.
Destra menggambarkan figur tersebut sebagai simbol “anak zaman” yang tetap bersuara di tengah tekanan. Ia menilai bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai demokrasi dan keberanian untuk menyampaikan kritik secara konstruktif.
Melalui karya ini, Destra berharap dapat menghadirkan ruang refleksi sekaligus empati publik terhadap kondisi yang dihadapi para aktivis. Ia menekankan bahwa seni dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan kemanusiaan yang kuat tanpa harus kehilangan kedalaman makna.
“Karya ini bukan hanya tentang individu, tetapi tentang banyak suara yang mungkin belum terdengar,” ujarnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak bersikap apatis terhadap isu-isu HAM serta terus menjaga ruang kebebasan berekspresi sebagai bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat.
