Ruangrakyatgarut.id 12 September 2026 — Proses seleksi calon pimpinan (Capim) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Garut menjadi perhatian kalangan pemuda. Sekretaris Jenderal (Sekjen) KNPI Kabupaten Garut, Okky Caresa, mengingatkan agar proses seleksi benar-benar dilaksanakan secara profesional, objektif, transparan, dan mengedepankan integritas.
Menurut Okky, pemilihan pimpinan BAZNAS bukan perkara biasa. Posisi tersebut menyangkut amanah umat dan pengelolaan dana zakat yang bersumber dari kepercayaan masyarakat.
Karena itu, ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam proses seleksi tidak hanya berorientasi pada pemenuhan persyaratan administratif, tetapi juga melihat kapasitas, rekam jejak, kompetensi, integritas serta komitmen calon terhadap kepentingan masyarakat.
“Seleksi Capim BAZNAS harus dilakukan secara profesional dan objektif. Jangan sampai proses yang seharusnya mencari figur terbaik justru dipengaruhi kepentingan tertentu,” ujar Okky.
Ia secara khusus mengingatkan agar budaya titipan tidak menjadi bagian dalam proses seleksi. Menurutnya, apabila sebuah jabatan diisi karena kedekatan, kepentingan kelompok, atau rekomendasi tertentu tanpa mempertimbangkan kapasitas dan integritas, maka hal tersebut berpotensi menggerus kepercayaan publik.
“Jangan sampai ada budaya titipan. Yang harus diutamakan adalah profesionalitas. Siapa yang memiliki kapasitas, integritas dan kemampuan untuk mengelola amanah umat, itulah yang harus diberikan kesempatan,” tegasnya.
Okky juga mengingatkan seluruh pihak agar menghindari ‘dosa masa lalu’. Ia berharap berbagai persoalan yang pernah menjadi catatan dalam tata kelola maupun proses pemilihan sebelumnya dapat dijadikan bahan evaluasi dan tidak kembali terulang.
“Dosa masa lalu jangan diulang. Kalau ada kekurangan atau persoalan pada masa sebelumnya, jadikan itu sebagai evaluasi. Jangan sampai kesalahan yang sama kembali terjadi dalam proses seleksi kali ini,” katanya.
Menurutnya, seleksi yang sehat harus mampu melahirkan figur yang tidak hanya memiliki kemampuan secara teknis, tetapi juga mempunyai keberanian menjaga independensi, amanah dalam menjalankan tugas, serta mampu mempertanggungjawabkan setiap keputusan kepada masyarakat.
BAZNAS, lanjut Okky, memiliki peran strategis dalam pengelolaan zakat sekaligus membantu menjawab berbagai persoalan sosial dan ekonomi masyarakat. Karena itu, kualitas pimpinan akan sangat menentukan kualitas tata kelola lembaga ke depan.
“BAZNAS membutuhkan orang-orang yang benar-benar paham tentang amanah, tata kelola dan kepentingan umat. Jangan sampai kepentingan sesaat mengalahkan kepentingan masyarakat yang jauh lebih besar,” ujarnya.
Ia pun mendorong agar proses seleksi dilakukan dengan prinsip meritokrasi, yakni memberikan penilaian berdasarkan kemampuan, prestasi, pengalaman, rekam jejak dan integritas calon.
Dengan demikian, kata Okky, siapapun yang nantinya terpilih benar-benar merupakan hasil dari proses yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan karena faktor kedekatan ataupun kepentingan tertentu.
“Kalau prosesnya profesional, transparan dan objektif, maka kita bisa berharap lahir Capim BAZNAS yang berkualitas dan berintegritas. Ini yang harus menjadi tujuan bersama,” pungkasnya.
Sorotan tersebut menjadi pengingat bahwa seleksi Capim BAZNAS Kabupaten Garut semestinya tidak hanya menghasilkan figur untuk mengisi jabatan, tetapi juga menghadirkan sosok yang mampu menjaga kepercayaan publik dan memastikan amanah zakat dikelola secara profesional, transparan, dan berpihak pada kepentingan umat.
