Ruangrakyatgarut.id 21 Juli 2026 – Pemerintah Kabupaten Garut kembali menggelar kegiatan bertajuk Rotinsulu Care Live sebagai bagian dari upaya peningkatan layanan kesehatan. Namun di balik narasi komitmen dan inovasi yang disampaikan, publik justru mempertanyakan: apakah ini solusi nyata atau sekadar seremoni berulang?
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menegaskan bahwa pelayanan kesehatan harus semakin prima, cepat, dan merata. Pernyataan tersebut bukan hal baru. Namun hingga kini, kondisi di lapangan masih menunjukkan berbagai persoalan klasik yang belum terselesaikan.
Di sejumlah wilayah, akses layanan kesehatan masih terbatas. Warga di daerah pelosok harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan penanganan medis. Di sisi lain, antrean panjang, keterbatasan tenaga medis, serta fasilitas yang belum memadai masih menjadi keluhan yang terus berulang.
Program Rotinsulu Care Live digadang-gadang sebagai inovasi, khususnya dalam penanganan penyakit paru. Namun tanpa indikator capaian yang jelas dan transparansi pelaksanaan, program ini berpotensi hanya menjadi etalase kegiatan tanpa dampak signifikan.
Padahal, Kabupaten Garut menghadapi tantangan serius dalam sektor kesehatan, terutama tingginya kasus penyakit paru seperti TBC. Kondisi ini seharusnya dijawab dengan kebijakan konkret, berbasis data, dan terukur—bukan sekadar kegiatan simbolik.
Lebih jauh, publik juga berhak mengetahui bagaimana alokasi anggaran untuk program ini, siapa yang bertanggung jawab atas pelaksanaannya, serta bagaimana mekanisme evaluasi dilakukan. Tanpa keterbukaan, kepercayaan masyarakat akan sulit dibangun.
Kritik juga mengarah pada pola komunikasi pemerintah yang dinilai lebih menonjolkan publikasi dibandingkan penyelesaian masalah. Di tengah kebutuhan mendesak akan layanan kesehatan yang layak, masyarakat tidak membutuhkan jargon, melainkan tindakan nyata.
Momentum Rotinsulu Care Live seharusnya menjadi titik balik pembenahan sistem kesehatan di Garut. Namun jika tidak diikuti langkah konkret, terukur, dan berkelanjutan, maka kegiatan ini hanya akan menambah daftar panjang program tanpa hasil.
Pada akhirnya, masyarakat akan menilai bukan dari apa yang disampaikan, tetapi dari apa yang dirasakan. Apakah layanan benar-benar membaik, atau justru tetap berjalan di tempat—itulah ujian sesungguhnya bagi komitmen pemerintah daerah.
