Ruangrakyatgarut.id 15 April 2026 — Solidaritas warga Garut di tanah rantau kembali menjadi sorotan melalui kisah lahirnya komunitas ASGAR JAYA, sebuah gerakan sosial yang berawal dari kebersamaan sederhana hingga berkembang menjadi kekuatan nyata bagi masyarakat di kampung halaman.
Cikal bakal ASGAR JAYA bermula dari sebuah kontrakan sederhana di kawasan Tanah Rendah, Jatinegara, Jakarta Timur. Di tempat itu, para perantau asal Garut dari berbagai latar belakang profesi seperti tukang sol sepatu, tukang cukur, hingga pedagang kitab rutin berkumpul dalam suasana kekeluargaan.
Kegiatan yang dilakukan pun sederhana, yakni yasinan dan doa bersama setiap Kamis malam Jumat. Namun, dari rutinitas tersebut terbangun ikatan emosional yang kuat antar sesama perantau yang dilandasi kerinduan terhadap kampung halaman.
Seiring berjalannya waktu, muncul gagasan untuk menyatukan warga Garut di perantauan secara lebih terorganisir. Gagasan tersebut dipelopori oleh Atjeng Muhyidien yang mendorong terbentuknya wadah silaturahmi yang lebih luas.
Inisiatif tersebut kemudian berkembang setelah ia bertemu dengan Dicky Zulkarnaen, Kolonel Asep, serta sejumlah warga Garut lainnya di Jakarta.
Langkah konsolidasi semakin menguat ketika mereka menjalin silaturahmi dengan Adang Ruchiyatna, yang memiliki kedekatan keluarga dengan Wirahadikusuma. Dalam pertemuan tersebut, muncul gagasan penambahan nama “JAYA” sebagai identitas gerakan.
“Jangan hanya ASGAR wungkul, tambah JAYA karena urang kumpul di Jakarta,” ujar Jenderal Adang, yang kemudian menjadi tonggak lahirnya nama ASGAR JAYA.
Sejak saat itu, jaringan silaturahmi warga Garut di perantauan semakin luas. Mereka terhubung dengan berbagai tokoh, di antaranya Dani Salis Wijaya, Kang Idris yang dikenal dekat dengan Siti Hardiyanti Rukmana, serta Indra Rukmana.
Dari rangkaian pertemuan dan komunikasi tersebut, lahirlah program nyata bertajuk Qurban Bersama untuk Urang Garut sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat di kampung halaman.
Dalam pelaksanaannya, program tersebut berhasil menghimpun sebanyak 124 ekor domba dan sapi untuk disalurkan kepada masyarakat Garut. Kegiatan distribusi di daerah dipusatkan melalui Radio REKS bersama Kang Sofi, sehingga penyaluran bantuan dapat berjalan lebih terkoordinasi.
Selain hewan qurban, bantuan tambahan berupa 6 ton beras juga turut disalurkan untuk masyarakat yang membutuhkan, memperkuat dampak sosial dari gerakan tersebut.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa solidaritas yang dibangun dari kebersamaan sederhana mampu berkembang menjadi gerakan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
ASGAR JAYA pun tidak hanya menjadi simbol persatuan warga Garut di perantauan, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga silaturahmi dan tidak melupakan sejarah perjuangan.
Para penggagas gerakan ini berharap, semangat kebersamaan yang telah dibangun dapat terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya, sehingga solidaritas warga Garut tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
“Tong hilap kana sejarah. Kekompakan hari ini adalah hasil dari perjuangan kemarin,” menjadi pesan yang terus digaungkan dalam perjalanan ASGAR JAYA.
Dengan semangat sauyunan, warga Garut di perantauan optimistis dapat terus berkontribusi bagi kemajuan daerah dan menjaga nilai-nilai kebersamaan yang telah diwariskan.
