Ruangrakyatgarut.id — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Garut menggelar Kajian Politik dengan mengusung tema “Bicara Demokrasi, Pemuda Bertanya, Menakar Agenda Pemilu yang Berkualitas”, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pemuda Garut, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, tersebut menjadi ruang dialog bagi kalangan pemuda dan mahasiswa untuk membahas demokrasi, kepemiluan, serta peran generasi muda dalam mengawal proses politik yang demokratis dan berkualitas.
Kajian politik tersebut turut melibatkan berbagai organisasi mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Cipayung maupun organisasi kemahasiswaan lainnya. Di antaranya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (HIMA PERSIS), SEMMI, dan SII.
Keterlibatan berbagai organisasi mahasiswa tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi, konsolidasi, serta pertukaran gagasan antarkelompok mahasiswa dan kepemudaan di Kabupaten Garut.
Perbedaan latar belakang organisasi dalam forum tersebut tidak dipandang sebagai sekat. Sebaliknya, keberagaman perspektif diharapkan menjadi kekuatan untuk membangun diskusi yang kritis dan konstruktif sekaligus melahirkan gagasan bagi penguatan demokrasi.
Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua DPD KNPI Kabupaten Garut Agil Syahrizal, Sekretaris DPD KNPI Kabupaten Garut Okky Caressa Ginanjar, Yusuf Abdullah dari KPU Kabupaten Garut, Ketua Bawaslu Kabupaten Garut Ahmad Nurul Syahid, serta Wakil Ketua Bidang Politik DPD KNPI Kabupaten Garut Kiki M. Sundani.
Ketua KNPI: Pemuda Harus Berani Bertanya dan Mengawal Demokrasi
Ketua DPD KNPI Kabupaten Garut, Agil Syahrizal, dalam sambutanya menyampaikan bahwa kajian politik tersebut merupakan bagian dari upaya KNPI membuka ruang dialog bagi generasi muda untuk membicarakan berbagai persoalan demokrasi dan kepemiluan.
Menurut Agil, pemuda tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pemilih ketika momentum politik berlangsung. Generasi muda harus mampu mengambil peran sebagai kelompok intelektual yang berani bertanya, menyampaikan kritik, sekaligus menawarkan gagasan konstruktif.
«“Pemuda harus mengambil peran dalam setiap proses demokrasi. Kita ingin organisasi mahasiswa dan kepemudaan, termasuk kelompok Cipayung, dapat menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan kritis untuk membangun demokrasi yang lebih berkualitas,” ujar Agil.»
Ia menilai keberagaman organisasi mahasiswa merupakan kekuatan yang perlu dirawat melalui komunikasi dan dialog.
«“Perbedaan latar belakang organisasi jangan menjadi penghalang untuk berdiskusi. Justru dari perbedaan perspektif itulah kita dapat menghasilkan gagasan yang lebih komprehensif,” katanya.»
Agil berharap kajian politik tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi dapat melahirkan rekomendasi dan gerakan nyata dalam meningkatkan kesadaran politik generasi muda di Kabupaten Garut.
Okky: Pemuda Harus Menjadi Bagian dari Proses Demokrasi
Sekretaris DPD KNPI Kabupaten Garut, Okky Caressa Ginanjar, sekaligus narasumber mengatakan kajian politik tersebut menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai organisasi mahasiswa dan kepemudaan dalam membangun kesadaran serta literasi politik generasi muda.
Menurut Okky, demokrasi tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan pemilu dan proses pencoblosan. Demokrasi juga menyangkut bagaimana masyarakat, khususnya generasi muda, memahami hak dan kewajibannya serta ikut mengawal proses politik secara berkelanjutan.
«“Kajian ini kami hadirkan sebagai ruang untuk bertukar gagasan. Pemuda harus memiliki keberanian untuk bertanya, menyampaikan pandangan, sekaligus memberikan kritik terhadap berbagai persoalan demokrasi dan kepemiluan,” ujar Okky.»
Ia menilai keterlibatan PMII, GMNI, HMI, IMM, KAMMI, HIMA PERSIS, SEMMI SII, serta organisasi kepemudaan lainnya menunjukkan adanya perhatian kuat dari kalangan pemuda terhadap masa depan demokrasi di Kabupaten Garut.
Menurutnya, perbedaan latar belakang dan karakter organisasi mahasiswa justru dapat menjadi modal dalam membangun diskursus politik yang sehat.
«“Kita memiliki latar belakang organisasi dan perspektif yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut jangan dijadikan sebagai alasan untuk terpecah. Justru melalui dialog seperti ini, kita bisa saling bertukar perspektif dan menemukan titik temu untuk kepentingan demokrasi,” katanya.»
Lebih lanjut, Okky menekankan pentingnya peningkatan literasi politik di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang membuat arus informasi semakin cepat.
Menurutnya, generasi muda harus memiliki kemampuan untuk memilah informasi, melakukan verifikasi, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Ia juga mendorong organisasi mahasiswa dan kepemudaan agar tidak hanya aktif ketika momentum pemilu berlangsung. Pengawalan demokrasi, kata dia, harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan politik, diskusi publik, pengawasan, serta penyampaian gagasan terhadap berbagai kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat.
«“Jangan sampai pemuda hanya hadir ketika pemilu. Peran pemuda harus berjalan sebelum, saat, dan setelah proses politik berlangsung. Kita harus ikut mengawal agar demokrasi menghasilkan proses politik yang sehat dan berpihak pada kepentingan masyarakat,” tuturnya.»
Okky menambahkan, KNPI Garut terbuka terhadap kolaborasi dengan berbagai organisasi mahasiswa dan kepemudaan untuk membangun ruang-ruang diskusi yang produktif.
«“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti sebagai forum seremonial. Ada gagasan yang lahir, ada rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti, dan yang paling penting ada semangat bersama untuk menjaga demokrasi agar tetap sehat, inklusif, dan berkualitas,” pungkasnya.»
KPU Dorong Peningkatan Literasi Kepemiluan
Sementara itu, Yusuf Abdullah dari KPU Kabupaten Garut menyampaikan bahwa pemuda merupakan salah satu kelompok strategis dalam membangun kualitas demokrasi, terutama melalui peningkatan partisipasi dan literasi kepemiluan.
Menurutnya, pemilih muda tidak cukup hanya datang ke tempat pemungutan suara. Mereka juga perlu memahami proses pemilu, mengenali peserta pemilu, serta mampu menentukan pilihan berdasarkan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
«“Pemilu yang berkualitas membutuhkan pemilih yang berkualitas. Karena itu, pendidikan politik dan pendidikan pemilih bagi generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun demokrasi,” ungkap Yusuf.»
Ia mengapresiasi kegiatan yang digelar DPD KNPI Kabupaten Garut karena mempertemukan penyelenggara pemilu dengan berbagai organisasi mahasiswa dan kepemudaan.
Menurut Yusuf, forum dialog seperti ini dapat menjadi sarana untuk menyampaikan informasi kepemiluan sekaligus mendengar secara langsung pertanyaan, kritik, dan masukan dari kalangan mahasiswa.
«“Ruang dialog seperti ini penting. KPU tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga perlu mendengar perspektif masyarakat, khususnya generasi muda,” katanya.»
Yusuf berharap organisasi mahasiswa, termasuk kelompok Cipayung, dapat menjadi mitra strategis dalam meningkatkan literasi kepemiluan di tengah masyarakat.
Bawaslu Tekankan Pengawasan Partisipatif
Ketua Bawaslu Kabupaten Garut, Ahmad Nurul Syahid, menekankan pentingnya keterlibatan pemuda dalam mengawal proses demokrasi dan kepemiluan.
Menurutnya, mahasiswa dan organisasi kepemudaan memiliki posisi strategis sebagai bagian dari masyarakat sipil yang dapat ikut melakukan pengawasan terhadap jalannya proses demokrasi.
«“Pengawasan pemilu bukan hanya menjadi tanggung jawab Bawaslu. Masyarakat, khususnya mahasiswa dan pemuda, juga memiliki peran penting untuk ikut mengawasi dan melaporkan apabila menemukan dugaan pelanggaran,” ungkapnya.»
Ahmad juga mendorong organisasi mahasiswa untuk terus meningkatkan literasi politik dan kepemiluan. Pemilih yang memahami hak dan kewajibannya dinilai akan lebih mampu menentukan pilihan secara rasional serta tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.
Ia mengingatkan agar ruang demokrasi diisi dengan perdebatan gagasan, bukan penyebaran informasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
«“Pemuda harus menjadi pelopor demokrasi yang sehat. Mari kita bangun budaya politik yang mengedepankan gagasan, integritas, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan pilihan,” ujarnya.»
Melalui kajian politik tersebut, Bawaslu berharap semakin banyak generasi muda memahami pentingnya pengawasan partisipatif serta ikut menjaga proses demokrasi agar berlangsung secara jujur, adil, dan berintegritas.
Pemuda Didorong Menjadi Pengawal Demokrasi
Kajian politik DPD KNPI Kabupaten Garut tersebut menjadi momentum mempertemukan berbagai perspektif organisasi mahasiswa, kepemudaan, serta penyelenggara pemilu dalam satu ruang dialog.
Forum “Bicara Demokrasi, Pemuda Bertanya” diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat berkembang menjadi gagasan dan rekomendasi yang memberikan kontribusi terhadap terciptanya agenda pemilu yang lebih transparan, demokratis, berintegritas, dan berkualitas.
Kehadiran kelompok Cipayung dan berbagai organisasi mahasiswa lainnya juga menjadi bagian dari upaya memperkuat konsolidasi gerakan intelektual mahasiswa di Garut.
Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pemuda bukan sekadar penonton dalam perjalanan demokrasi. Generasi muda memiliki posisi strategis sebagai pengawal, pengawas, sekaligus bagian penting dalam menentukan masa depan demokrasi di Kabupaten Garut. (Hilman)
