Ruangrakyatgarut.id – Polemik yang sempat mencuat terkait dugaan kemarahan mantan Bupati Garut, H. Agus Supriyadi, S.H., atas pembangunan pabrik Ciomy di kawasan Cireungit akhirnya diluruskan. Klarifikasi langsung disampaikan Agus untuk meredam spekulasi yang telanjur berkembang di ruang publik.
Dalam keterangannya, Agus menegaskan bahwa narasi yang menyebut dirinya “murka” tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya. Ia menyebut telah terjadi miskomunikasi antara pernyataannya dengan cara pemberitaan disajikan oleh sejumlah media.
“Bukan marah seperti yang diberitakan. Ada miskomunikasi saja. Saya hanya mempertanyakan terkait lahan pribadi saya yang terdampak pembangunan,” ujar Agus.
Klarifikasi tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Villa Guntur Sari, Jalan Ibrahim Adjie, Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Selasa (24/03/2026).
Posisi sebagai Warga, Bukan Pejabat
Agus menjelaskan, saat menyampaikan pernyataan sebelumnya, ia tidak sedang berbicara dalam kapasitas sebagai tokoh publik atau mantan kepala daerah yang mengkritisi kebijakan secara luas. Ia menegaskan posisinya murni sebagai warga yang ingin memperoleh kejelasan terkait aset miliknya.
Ia mengungkapkan, sebagian lahan pribadinya berada di sekitar lokasi pembangunan pabrik Ciomy di Kampung Cireungit, Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong Kidul. Kedekatan lokasi tersebut yang kemudian mendorong dirinya untuk mempertanyakan potensi dampak pembangunan terhadap hak kepemilikannya.
“Sebagai warga, wajar kalau saya bertanya. Apalagi ini menyangkut lahan pribadi yang mungkin terdampak,” katanya.
Tekankan Kepastian Hukum dan Transparansi
Lebih jauh, Agus menegaskan bahwa inti persoalan yang ia sampaikan adalah soal kepastian hukum dan kejelasan batas lahan. Ia ingin memastikan bahwa proses pembangunan berjalan sesuai aturan dan tidak merugikan pihak manapun, termasuk pemilik lahan di sekitar proyek.
Menurutnya, persoalan seperti ini seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi terbuka tanpa harus berkembang menjadi polemik yang memicu persepsi konflik di masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya transparansi dari pihak pengembang maupun pihak terkait lainnya, agar masyarakat sekitar mendapatkan informasi yang utuh dan tidak menimbulkan kecurigaan.
“Komunikasi yang baik antara investor, pemerintah, dan warga itu kunci. Kalau terbuka, saya kira tidak akan muncul polemik seperti ini,” ujarnya.
Soroti Framing Media dan Dampak Persepsi Publik
Agus menyayangkan narasi yang terlanjur viral di media sosial dan sejumlah media daring yang dinilainya membesar-besarkan situasi. Ia menilai framing yang kurang proporsional dapat memicu persepsi negatif dan memperkeruh suasana.
“Makanya perlu diluruskan supaya tidak ada kesalahpahaman. Saya tidak dalam posisi menolak secara emosional, tapi hanya meminta kejelasan,” tegasnya.
Ia menambahkan, dalam era arus informasi yang cepat, akurasi dan kehati-hatian dalam penyajian berita menjadi sangat penting, terutama ketika menyangkut tokoh publik dan isu pembangunan.
Harap Polemik Segera Mereda
Dengan adanya klarifikasi ini, Agus berharap polemik yang sempat berkembang dapat segera mereda dan tidak lagi menimbulkan interpretasi yang keliru di tengah masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa pada prinsipnya semua pihak memiliki tujuan yang sama, yakni menciptakan situasi yang kondusif serta memastikan pembangunan berjalan tanpa merugikan warga.
“Yang penting sekarang semuanya jelas. Kita sama-sama ingin situasi kondusif dan tidak ada pihak yang dirugikan,” pungkasnya.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah pesatnya pembangunan di Kabupaten Garut, komunikasi yang efektif dan informasi yang akurat merupakan fondasi utama dalam menjaga kepercayaan publik serta mencegah munculnya konflik sosial.
