Ruangrakyatgarut.id 15 Agustus 2026 — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Garut menggelar turnamen domino dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Selain menjadi ajang hiburan, kegiatan tersebut menjadi sarana mempererat silaturahmi antara jajaran pemasyarakatan dan masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIB Garut, Rusdedy, A.Md.IP., S.H., M.Si., mengatakan domino dipilih karena merupakan permainan rakyat yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui turnamen tersebut, Lapas ingin membangun suasana kebersamaan dan kekeluargaan.
“Permainan ini kan permainan rakyat. Jadi dalam rangka kemerdekaan kita bisa saling bersilaturahmi, membina hubungan kekeluargaan dan hubungan emosional, sehingga dalam bermasyarakat kita bisa semakin kompak,” ujar Rusdedy.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk keterbukaan Lapas dalam membangun interaksi positif dengan masyarakat. Lapas tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan di dalam lembaga, tetapi juga berupaya hadir dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Ini satu pembuktian bahwa Lapas Garut juga turut serta dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Ini wujud kebersamaan, kekeluargaan antara pemasyarakatan Garut Raya dengan masyarakat umum,” katanya.
Warga Binaan Turut Merasakan Semarak Kemerdekaan
Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI juga dirasakan warga binaan. Mereka turut dilibatkan dalam rangkaian kegiatan, dengan pertandingan khusus yang digelar di dalam lingkungan Lapas.
“Pada malam ini juga kita libatkan warga binaan, cuma warga binaan mainnya di dalam. Jadi sama-sama,” ungkap Rusdedy.
Keterlibatan warga binaan menjadi bagian dari proses pembinaan sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk beraktivitas secara positif dan merasakan suasana perayaan kemerdekaan.
Menurut Rusdedy, pembinaan tidak hanya berkaitan dengan perubahan perilaku, tetapi juga mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali dan diterima di tengah masyarakat.
Empat Domba Jadi Hadiah Utama
Hal menarik dalam turnamen tersebut adalah hadiah utama yang berasal dari program pembinaan kemandirian warga binaan, khususnya sektor peternakan.
Lapas Kelas IIB Garut diketahui memiliki peternakan domba dengan jumlah lebih dari 200 ekor. Sebagian hasil dari kegiatan produktif tersebut dimanfaatkan sebagai hadiah bagi para pemenang turnamen.
“Insyaallah hadiahnya hasil dari kegiatan peternakan warga binaan,” ujar Rusdedy.
Sebanyak empat ekor domba disiapkan untuk pemenang juara pertama hingga keempat, ditambah sejumlah hadiah hiburan.
“Jadi kita mungkin mengambil empat domba untuk pemenang satu, dua, tiga, empat dan hadiah-hadiah hiburan,” jelasnya.
Pemanfaatan hasil peternakan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa program pembinaan di Lapas tidak hanya berorientasi pada pembentukan sikap dan perilaku, tetapi juga mendorong keterampilan produktif yang memiliki nilai ekonomi.
Momentum Memulihkan Hubungan Sosial
Rusdedy berharap momentum kemerdekaan dapat menjadi kesempatan bagi warga binaan untuk terus memperbaiki sikap dan perilaku sebelum kembali sepenuhnya ke masyarakat.
“Untuk warga binaan, di hari kemerdekaan ini semakin memperbaiki sikap dan perilaku,” katanya.
Ia menilai persoalan hukum yang pernah menjerat warga binaan tidak semestinya menjadi penghalang untuk membangun kembali hubungan sosial setelah menjalani proses pembinaan.
“Hubungan mungkin waktu di luar sempat retak dengan masyarakat karena terjadinya kasus hukum. Dengan kegiatan ini, insyaallah bisa kembali berbaur, bermain bersama dengan masyarakat,” tuturnya.
Menurutnya, interaksi positif antara warga binaan dan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses reintegrasi sosial.
“Jadi memulihkan kesatuan hubungan antara warga binaan dengan masyarakat,” pungkasnya.
Turnamen domino tersebut pun tidak sekadar menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kegiatan itu membawa pesan tentang kebersamaan, produktivitas, pembinaan, dan upaya memulihkan hubungan sosial antara warga binaan dan masyarakat.
Melalui momentum kemerdekaan, Lapas Kelas IIB Garut menegaskan bahwa warga binaan tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, berkarya, dan kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setelah menyelesaikan masa pembinaan. (Hil)
