Ruangrakyatgarut.id 03 November 2026 – Penyusunan kepengurusan DPD Partai Golkar Kabupaten Garut masa bakti 2026–2031 menjadi momentum strategis untuk menentukan arah masa depan partai. Di tengah dinamika politik yang semakin kompetitif dan perubahan karakter pemilih yang begitu cepat, komposisi kepengurusan tidak cukup hanya berorientasi pada konsolidasi internal, tetapi juga harus mampu menjawab tantangan zaman.
Hal tersebut disampaikan Kalamullah Apandi, Wakil Ketua DPD Angkatan Muda Partai Golkar (AMPI) Kabupaten Garut, yang memberikan sejumlah pemikiran, masukan, dan saran kepada tim formatur dalam menyusun komposisi kepengurusan Partai Golkar Garut pasca-Musda yang menetapkan Abdusy Syakur Amin sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Garut secara aklamasi.
Menurut Bung Kalam, terpilihnya Abdusy Syakur Amin yang saat ini menjabat sebagai Bupati Garut merupakan momentum penting untuk membawa Golkar Garut menjadi partai yang semakin modern, progresif, dan memiliki kedekatan yang kuat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.
“Musda telah melahirkan kepemimpinan baru. Sekarang tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menerjemahkan kepemimpinan tersebut ke dalam komposisi pengurus yang mampu bekerja, beradaptasi, dan memenangkan kepercayaan masyarakat. Golkar Garut harus berani melakukan transformasi, bukan sekadar melanjutkan pola-pola lama,” ungkap Kalamullah.
Ia menilai, menghadapi Pemilu 2029 dan kontestasi politik berikutnya, Golkar harus membaca perubahan demografi pemilih secara serius. Generasi milenial, Gen Z, serta Gen Alpha yang mulai memasuki kategori pemilih pemula akan menjadi bagian penting dalam menentukan arah politik Indonesia.
Karakter generasi tersebut berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dalam ekosistem digital, memiliki akses informasi yang luas, kritis terhadap kekuasaan, serta lebih terbuka terhadap gagasan dan figur yang dianggap autentik, kompeten, dan relevan dengan persoalan kehidupan mereka.
Di sisi lain, tantangan politik juga semakin kompleks seiring perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), serta perubahan pola komunikasi dan mobilisasi masyarakat. Partai politik tidak lagi cukup hanya mengandalkan struktur organisasi, kekuatan tokoh, dan pola komunikasi konvensional.
“Partai modern harus memahami bagaimana anak muda berpikir, apa yang mereka khawatirkan, apa yang mereka cita-citakan, dan bagaimana mereka membangun kepercayaan. Jangan sampai Golkar memiliki struktur yang kuat di atas kertas, tetapi kehilangan relevansi di tengah masyarakat muda yang justru akan menjadi penentu masa depan politik,” ujarnya.
Regenerasi Bukan Sekadar Pelengkap Struktur
Bung Kalam menegaskan bahwa komposisi kepengurusan DPD Partai Golkar Garut periode 2026–2031 perlu memberikan ruang yang lebih besar bagi kader muda untuk berada di posisi strategis dan operasional.
Menurutnya, regenerasi tidak boleh dipahami sebatas memasukkan beberapa nama anak muda sebagai pelengkap struktur organisasi. Regenerasi harus diwujudkan melalui distribusi peran, kewenangan, dan tanggung jawab yang nyata.
Ia mengingatkan bahwa apabila komposisi kepengurusan terlalu didominasi oleh figur-figur senior, tanpa memberikan ruang akselerasi yang memadai kepada kader muda, maka partai berisiko menghadapi perlambatan dalam merespons perubahan sosial, teknologi, dan karakter pemilih.
“Para senior memiliki jasa, pengalaman, dan kontribusi besar dalam membangun Partai Golkar. Itu tidak boleh diabaikan. Namun, pengalaman tersebut akan semakin bermakna apabila diwariskan melalui ruang pembinaan, nasihat, dan pengarahan. Sementara itu, kader muda harus diberikan kesempatan menjadi garda terdepan dalam menjalankan kerja-kerja organisasi dan menghadapi tantangan politik masa depan,” tegasnya.
Ia menambahkan, menempatkan kader muda di posisi strategis bukan berarti mengesampingkan senioritas. Justru sebaliknya, perpaduan pengalaman para senior dengan energi, kreativitas, dan kemampuan adaptasi generasi muda akan menjadi kekuatan besar bagi Golkar Garut.
Golkar Harus Menjadi Rumah Politik Generasi Muda
Lebih jauh, Bung Kalam memandang bahwa salah satu pekerjaan rumah terbesar partai politik saat ini adalah mengatasi apatisme generasi muda terhadap politik.
Sebagian anak muda masih memandang politik sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka, bahkan tidak sedikit yang merasa bahwa partai politik belum sepenuhnya merepresentasikan aspirasi dan kepentingannya.
Karena itu, Golkar Garut harus membangun pendekatan baru dengan menjadikan anak muda sebagai subjek politik, bukan sekadar objek mobilisasi saat menjelang pemilu.
Kehadiran anak muda dalam kepengurusan harus mampu melahirkan program-program yang konkret, mulai dari pengembangan kapasitas kepemimpinan, kewirausahaan, ekonomi kreatif, literasi digital, advokasi persoalan anak muda, hingga ruang partisipasi dalam perumusan kebijakan publik.
“Anak muda tidak cukup hanya diajak hadir dalam kegiatan partai atau diminta memasang atribut ketika pemilu. Mereka harus diberikan ruang untuk berpikir, menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, dan ikut menentukan arah kebijakan. Kalau Golkar ingin dicintai generasi muda, maka Golkar harus terlebih dahulu memberikan kepercayaan kepada generasi muda,” katanya.
Ia juga mendorong agar kepengurusan baru mampu memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan sebagai instrumen penguatan organisasi, komunikasi politik, pemetaan aspirasi masyarakat, serta pengembangan program-program yang lebih terukur dan berbasis data.
Tim Formatur Harus Melihat Masa Depan, Bukan Sekadar Masa Lalu
Bung Kalam berharap tim formatur dalam menyusun kepengurusan DPD Partai Golkar Kabupaten Garut periode 2026–2031 dapat mempertimbangkan secara serius aspek regenerasi, kompetensi, integritas, representasi generasi, dan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan zaman.
Menurutnya, kepengurusan yang baik bukan hanya yang mampu mengakomodasi kepentingan berbagai kelompok, tetapi juga yang memiliki visi kolektif untuk membangun partai dalam jangka panjang.
Komposisi pengurus harus mencerminkan perpaduan antara pengalaman dan pembaruan, antara kematangan politik dan keberanian berinovasi, serta antara kekuatan struktur organisasi dan kemampuan membangun kedekatan dengan masyarakat.
“Tim formatur memiliki tanggung jawab besar. Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan wajah Golkar Garut lima tahun ke depan. Jangan sampai kita hanya menyusun kepengurusan berdasarkan siapa yang paling lama berada dalam struktur, tetapi harus melihat siapa yang paling siap bekerja, berkontribusi, dan membawa partai menghadapi masa depan,” tandasnya.
Ia menegaskan, Golkar Garut memiliki peluang besar untuk menjadi partai yang semakin kuat dan relevan apabila berani membuka ruang regenerasi secara sungguh-sungguh.
“Golkar tidak boleh hanya menjadi partai yang besar karena sejarahnya. Golkar harus menjadi partai yang besar karena kemampuannya menjawab kebutuhan zaman. Senior memberikan arah, kader muda menjalankan akselerasi, dan seluruh elemen bergerak dalam satu tujuan. Inilah saatnya Golkar Garut membangun masa depan dengan keberanian melakukan pembaruan,” pungkas Bung Kalam.
Dengan demikian, penyusunan kepengurusan DPD Partai Golkar Kabupaten Garut periode 2026–2031 diharapkan tidak sekadar menjadi agenda administratif pasca-Musda, tetapi menjadi titik awal transformasi organisasi menuju partai yang lebih modern, inklusif, adaptif, dan memiliki daya tarik kuat bagi generasi muda.
