Ruangrakyatgarut.id 13 Oktober 2026 — Persoalan sampah di Kabupaten Garut kembali menjadi perhatian. Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Bajing serta kebutuhan pemulihan sistem pengangkutan sampah mendorong Aris Kharisma menyampaikan surat terbuka kepada Bupati Garut, Syakur Amin. Ia meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, terukur, dan berorientasi pada penyelesaian persoalan dari hulu hingga hilir.
Dalam surat terbuka bertajuk “Garut Darurat Sampah!”, Aris mengungkapkan bahwa dirinya pernah berupaya menghadirkan alternatif solusi melalui penjajakan kerja sama dengan investor dari Shenzhen, China, pada Mei 2025. Inisiatif tersebut bertujuan menjajaki teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Menurut Aris, saat itu Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, menjadi satu-satunya pihak yang menyambut inisiatif tersebut. Namun, ia mengaku belum melihat tindak lanjut dari Pemerintah Kabupaten Garut sebagaimana yang diharapkannya.
“Mei 2025, saya pernah membawa investor dari Shenzhen, China, untuk menjajaki solusi pengolahan sampah menjadi energi listrik. Saat itu, hanya Wabup Putri Karlina yang menyambut inisiatif ini. Sayangnya, belum ada tindak lanjut yang saya harapkan dari Pemkab Garut,” tulis Aris dalam surat terbukanya.
Meski demikian, Aris menyatakan tidak ingin terjebak dalam persoalan masa lalu. Ia menilai, situasi yang dihadapi Garut saat ini membutuhkan keterbukaan terhadap berbagai alternatif penyelesaian, bukan sekadar perdebatan mengenai pihak yang harus bertanggung jawab.
TPA Pasir Bajing Jadi Perhatian
Aris juga mengungkapkan bahwa dirinya bersama Bupati Garut, Syakur Amin, berkesempatan mengunjungi TPA Pasir Bajing pada malam sebelumnya. Kunjungan tersebut, menurutnya, menjadi momentum untuk melihat secara langsung persoalan pengelolaan sampah yang membutuhkan penanganan segera.
Ia menegaskan, penyelesaian krisis sampah harus diarahkan pada pengambilan keputusan yang tepat, dengan mempertimbangkan dampak jangka pendek maupun keberlanjutan sistem pengelolaan sampah di masa mendatang.
“Yang dibutuhkan bukan saling menyalahkan, melainkan keberanian mengambil keputusan yang tepat,” tulisnya.
Dalam pandangannya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan melalui langkah-langkah sementara. Pemerintah daerah perlu membangun sistem pengelolaan yang terintegrasi, mulai dari pengurangan sampah di sumbernya, pemilahan, pengangkutan, pengolahan, hingga penanganan residu di tempat pemrosesan akhir.
Minta Pengangkutan Dipulihkan dan Sistem Dibenahi
Melalui surat terbuka tersebut, Aris meminta Bupati Garut segera memulihkan layanan pengangkutan sampah sekaligus membenahi tata kelola persampahan secara menyeluruh.
Ia juga mendorong pemerintah daerah membuka ruang bagi pemanfaatan teknologi dan keterlibatan investor yang memiliki kapasitas serta kredibilitas dalam pengolahan sampah.
Menurutnya, setiap kebijakan perlu disertai target yang jelas, tenggat waktu pelaksanaan, serta penanggung jawab yang dapat dievaluasi. Dengan demikian, upaya penanganan sampah tidak berhenti pada pernyataan atau rencana, tetapi dapat diukur berdasarkan hasil nyata di lapangan.
Aris menilai, kejelasan target dan pembagian tanggung jawab menjadi bagian penting dalam memastikan setiap perangkat daerah menjalankan perannya secara terarah.
Ingatkan Pemerintah agar Tidak Gegabah
Selain mendesak percepatan penanganan, Aris mengingatkan agar pemerintah daerah tidak terburu-buru menetapkan kebijakan tanpa kajian yang matang.
Ia menilai, keputusan yang keliru dalam situasi krisis berpotensi menimbulkan konsekuensi jangka panjang terhadap sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Garut. Karena itu, berbagai pilihan solusi harus dikaji secara objektif dengan mempertimbangkan aspek teknis, lingkungan, pembiayaan, dan manfaat bagi masyarakat.
Aris juga meminta agar pemerintah tidak menutup peluang kerja sama hanya karena perbedaan pandangan atau pertimbangan birokrasi.
“Dengarkan semua pihak, kaji semua opsi secara objektif, dan jangan menutup pintu bagi solusi hanya karena ego atau kepentingan birokrasi,” tegasnya dalam surat terbuka tersebut.
Keterlibatan investor, lanjutnya, tetap perlu melalui proses pemeriksaan kelayakan yang transparan, termasuk penilaian terhadap teknologi yang ditawarkan, kebutuhan investasi, dampak lingkungan, serta keberlanjutan operasionalnya.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah daerah diharapkan dapat menentukan solusi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan Garut, bukan semata-mata memilih teknologi karena terlihat menjanjikan.
Garut Membutuhkan Solusi Nyata
Pada bagian akhir surat terbukanya, Aris kembali menekankan pentingnya kepemimpinan yang mampu mendengar masukan, mengambil keputusan berdasarkan kajian, serta memastikan pelaksanaannya berjalan sesuai target.
Ia berharap Bupati Garut dapat menjadikan persoalan sampah sebagai agenda prioritas yang ditangani secara terukur dan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat, pemerhati lingkungan, kalangan profesional, serta pelaku usaha yang memiliki kompetensi di bidang pengolahan sampah.
Bagi Aris, penyelesaian persoalan sampah tidak cukup hanya mengandalkan satu pendekatan. Diperlukan kombinasi kebijakan yang realistis, pembenahan pelayanan, penguatan pengelolaan dari sumbernya, dan pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kondisi daerah.
Pesan tersebut ia tutup dengan penegasan mengenai pentingnya tindakan nyata dari pemerintah daerah.
“Berani mendengar, tepat mengambil keputusan, dan tegas mengeksekusi. Garut tidak butuh alasan. Garut butuh solusi nyata!”
Surat terbuka ini menjadi dorongan agar Pemerintah Kabupaten Garut memperjelas langkah penanganan krisis sampah, termasuk tindak lanjut terhadap berbagai alternatif teknologi pengolahan yang pernah dijajaki. Adapun perkembangan penjajakan investor dari Shenzhen tersebut serta kemungkinan tindak lanjutnya masih perlu dikonfirmasi kepada pihak-pihak terkait.
Masyarakat kini membutuhkan penanganan yang tidak hanya merespons persoalan sesaat, tetapi juga membangun sistem persampahan yang berkelanjutan, transparan, dan mampu menjawab kebutuhan Kabupaten Garut dalam jangka panjang.
