Ruangrakyatgarut.id 04 November 2026 – Dinamika politik dan berbagai isu yang berkembang di tingkat nasional kembali menjadi perhatian publik. Di tengah berbagai persoalan yang menyita perhatian, muncul sebuah refleksi kritis mengenai dua realitas kehidupan yang berjalan berdampingan, tetapi memiliki kepentingan dan perjuangan yang sangat berbeda, yakni kehidupan kelompok elite di lapisan atas dan masyarakat kecil di lapisan bawah.
Pemerhati Kebijakan Publik, Anton Heryanto, SIP, menilai bahwa di balik dinamika kekuasaan dan berbagai kepentingan politik, terdapat persoalan mendasar yang tidak boleh luput dari perhatian pemerintah, yaitu kesenjangan antara perjuangan mempertahankan kekuasaan dengan perjuangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Menurutnya, dunia lapisan atas memiliki orientasi perjuangan yang lebih banyak berkaitan dengan mempertahankan posisi, pengaruh, serta akses terhadap sumber daya. Politik menjadi arena utama dalam membangun dan menjaga aliansi, mengamankan kepentingan bisnis, hingga mempertahankan pola kekuasaan yang telah berjalan.
Dalam situasi tersebut, perubahan kerap dipandang sebagai risiko. Akibatnya, stabilitas dan keberlangsungan kepentingan tertentu tidak jarang lebih diutamakan dibandingkan upaya mewujudkan keadilan yang merata bagi masyarakat.
Sementara itu, realitas kehidupan masyarakat di lapisan bawah justru menghadirkan persoalan yang jauh lebih mendasar. Perjuangan mereka bukan tentang mempertahankan jabatan, pengaruh, atau akses kekuasaan, melainkan bagaimana memastikan kehidupan keluarga tetap berjalan dari hari ke hari.
“Persoalan masyarakat kecil sangat sederhana, tetapi mendasar. Hari ini harus makan apa, biaya sekolah anak dari mana, dan bagaimana jika ada anggota keluarga yang jatuh sakit,” demikian gambaran persoalan yang menjadi perhatian Anton.
Ia menilai, kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan inflasi, serta pendapatan masyarakat yang belum sebanding dengan biaya hidup menjadi tantangan nyata yang terus dihadapi kelompok masyarakat bawah.
Kesenjangan Elite dan Rakyat Bisa Menggerus Kepercayaan Publik
Anton menegaskan, perbedaan kondisi antara kelompok elite dan masyarakat kecil bukan sekadar persoalan perbedaan nasib. Lebih jauh, kondisi tersebut dapat menjadi indikator bahwa jaring pengaman sosial dan jalur mobilitas ekonomi masyarakat belum berjalan sebagaimana mestinya.
Menurutnya, ketika perjuangan kelompok elite semakin jauh dari penderitaan rakyat, kebijakan yang dihasilkan berpotensi lebih banyak melindungi kepentingan mereka yang telah memiliki kekuatan ekonomi dan politik, dibandingkan memberikan ruang bagi masyarakat yang membutuhkan perlindungan.
Ia juga mengingatkan bahwa kesabaran masyarakat memiliki batas. Selama kebutuhan dasar masih dapat terpenuhi, masyarakat cenderung mampu bertahan menghadapi berbagai kesulitan. Namun, ketika beban hidup semakin berat, sementara ketimpangan dan kemewahan di lingkungan kekuasaan terlihat begitu mencolok, kepercayaan masyarakat terhadap sistem dapat mengalami penurunan.
“Kepercayaan publik tidak cukup dibangun melalui pernyataan resmi. Masyarakat membutuhkan bukti nyata bahwa negara hadir dan memberikan perlindungan secara adil,” menjadi pesan penting dalam refleksi tersebut.
Keadilan Harus Dirasakan, Bukan Sekadar Diucapkan
Lebih lanjut, Anton berpandangan bahwa keadilan bukan hanya konsep yang tertuang dalam regulasi maupun pidato pejabat. Bagi masyarakat kecil, keadilan harus dapat dirasakan secara langsung melalui harga kebutuhan pokok yang terjangkau, tersedianya lapangan pekerjaan, akses pendidikan dan kesehatan, serta penegakan hukum yang berlaku sama bagi seluruh warga negara.
Menurutnya, negara tidak boleh hanya mendengarkan suara kelompok yang paling kuat, paling berpengaruh, atau paling dekat dengan pusat kekuasaan. Pemerintah justru harus memberikan perhatian lebih besar kepada masyarakat yang selama ini kesulitan menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan hak-haknya.
Karena itu, berbagai dinamika politik nasional semestinya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap arah kebijakan publik. Jangan sampai energi bangsa terlalu banyak terserap untuk mempertahankan kepentingan kekuasaan, sementara persoalan mendasar masyarakat seperti kemiskinan, pengangguran, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan ketimpangan ekonomi belum mendapatkan penyelesaian yang memadai.
Pemerintah Harus Hadir dengan Kebijakan yang Menyentuh Rakyat
Anton berharap kondisi perekonomian nasional ke depan semakin membaik, bukan hanya terlihat positif dalam laporan dan angka-angka statistik, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga berharap setiap kebijakan yang diambil pemerintah tidak berhenti pada tataran wacana dan formalitas, melainkan benar-benar menyentuh kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
“Negara hadir secara benar ketika tidak hanya mendengarkan suara yang paling lantang atau paling berkuasa, tetapi juga memprioritaskan mereka yang suaranya paling sulit didengar.”
Pada akhirnya, dua dunia yang berjalan dalam satu waktu tersebut seharusnya menjadi bahan renungan bersama. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan semata-mata terletak pada stabilitas politik, kuatnya kekuasaan, atau pertumbuhan ekonomi di atas kertas, melainkan sejauh mana rakyatnya dapat hidup layak, memperoleh keadilan, dan merasakan kehadiran negara.
ANTON HERYANTO, SIP
Pemerhati Kebijakan Publik
