Oleh: Yusup Supriadi
Sekretaris Jenderal Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD GEMAS)
Ruangrakyatgarut.id 23 Juni 2026 ebijakan penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah berpotensi menimbulkan efek domino terhadap perekonomian masyarakat di tingkat akar rumput. Ketika sekolah diliburkan dan program tidak berjalan, ekosistem ekonomi lokal yang selama ini tumbuh di sekitar pelaksanaan program ikut mengalami perlambatan.
Salah satu dampak yang paling terasa adalah menurunnya omzet petani, peternak, dan pedagang lokal yang selama ini menjadi bagian dari rantai pasok program. Kebutuhan harian seperti beras, telur, daging ayam, sayuran, dan susu selama ini diserap secara rutin oleh dapur penyedia makanan bergizi. Saat program berhenti, para produsen lokal kehilangan pembeli tetap (offtaker) dalam jumlah besar secara mendadak.
Kondisi tersebut berpotensi memunculkan kelebihan pasokan di pasar. Produk pangan yang sebelumnya dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan program dapat membanjiri pasar umum, sehingga berisiko menekan harga jual di tingkat petani dan peternak. Akibatnya, pendapatan para pelaku usaha sektor pangan dapat menurun dalam waktu singkat.
Di sisi lain, penghentian operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selama masa libur sekolah juga berdampak pada tenaga kerja yang bergantung pada aktivitas dapur program. Banyak dapur komunitas dan unit pengolahan makanan yang menyerap tenaga kerja lokal, terutama ibu rumah tangga, pekerja harian, serta pelaku UMKM kuliner. Ketika kegiatan dapur berhenti, sumber pendapatan mereka pun ikut terhenti sementara.
Perputaran Uang di Daerah Melemah
Program MBG tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pemenuhan gizi anak-anak, tetapi juga menjadi salah satu motor penggerak ekonomi lokal. Dana operasional yang mengalir setiap hari melalui pembelian bahan baku, pembayaran tenaga kerja, hingga transaksi di pasar tradisional menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian desa dan kecamatan.
Ketika aliran dana tersebut terhenti selama beberapa pekan, likuiditas di tingkat masyarakat ikut menurun. Warung, pasar tradisional, hingga usaha kecil yang selama ini menikmati perputaran ekonomi dari program tersebut berpotensi mengalami penurunan transaksi. Situasi ini dapat memperberat kondisi konsumsi masyarakat yang tengah menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Dari sisi keluarga penerima manfaat, penghentian program juga memaksa rumah tangga, khususnya keluarga kurang mampu, kembali mengalokasikan anggaran tambahan untuk memenuhi kebutuhan makan bergizi anak-anak selama masa liburan. Akibatnya, pengeluaran rumah tangga lebih banyak terserap untuk kebutuhan pokok, sementara konsumsi terhadap kebutuhan lain berpotensi menurun.
Tantangan Rantai Pasok Pangan
Penghentian sementara program juga menghadirkan tantangan dalam pengelolaan rantai pasok pangan. Siklus produksi petani dan peternak berjalan terus-menerus dan tidak dapat dihentikan begitu saja mengikuti jadwal libur sekolah. Ketika permintaan dari program mendadak berhenti, para pelaku usaha di sektor hulu menghadapi ketidakpastian pasar dan risiko kerugian akibat hasil produksi yang tidak terserap secara optimal.
Karena itu, jeda operasional Program Makan Bergizi Gratis selama masa libur sekolah tidak hanya berarti berhentinya distribusi makanan kepada peserta didik. Lebih dari itu, kebijakan tersebut berpotensi menghentikan sementara roda ekonomi yang baru mulai bergerak di tingkat masyarakat bawah.
Bagi banyak daerah, program ini telah menjadi stimulus ekonomi yang nyata karena dana negara langsung berputar di pasar tradisional, kelompok tani, peternak, UMKM, dan dapur-dapur komunitas. Ketika aktivitas tersebut terhenti, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan sebagian pendapatannya pada ekosistem program.
Perlu Skema Alternatif
Untuk mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi tersebut, kebijakan penghentian operasional SPPG selama masa libur sekolah perlu dikaji kembali dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan ekonomi lokal.
Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah memodifikasi skema penyaluran manfaat selama masa liburan. Misalnya, dengan menyalurkan paket bahan pangan pokok langsung kepada keluarga penerima manfaat. Skema ini dapat menjaga serapan hasil produksi petani dan peternak, mempertahankan aktivitas ekonomi lokal, sekaligus memastikan kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi meskipun kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung libur.
Dengan demikian, tujuan program tidak hanya menjaga kualitas gizi generasi muda, tetapi juga tetap mempertahankan stabilitas ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput secara berkelanjutan.
