Ruangrakyatgarut.id 23 februari 2026 -Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, sejumlah orangtua siswa mempertanyakan mekanisme pembagian makanan yang dinilai tidak sesuai dengan skema anggaran harian yang telah ditetapkan pemerintah.
Dalam pembagian terbaru, paket MBG yang diterima siswa berisi roti, apel, susu, satu potong bolu pisang, dan dimsum. Namun yang menjadi perhatian, paket tersebut dijadwalkan untuk konsumsi selama tiga hari dan dibagikan sekaligus dalam satu waktu.
Orangtua siswa mempertanyakan apakah mekanisme penggabungan jatah tiga hari menjadi satu kali distribusi tersebut telah sesuai dengan ketentuan anggaran pemerintah per hari. Berdasarkan informasi yang beredar, anggaran MBG ditetapkan dengan nominal tertentu per siswa per hari untuk memastikan kebutuhan gizi terpenuhi secara layak dan proporsional.
“Jika anggarannya dihitung per hari, lalu mengapa makanan dibagikan sekaligus untuk tiga hari? Apakah kualitas dan nilai gizinya tetap terjamin? Bagaimana dengan transparansi penggunaan anggarannya?” ungkap salah satu orangtua siswa dengan nada tegas.
Mereka juga menyoroti aspek kesegaran dan kelayakan konsumsi makanan apabila harus disimpan selama beberapa hari. Dikhawatirkan, hal ini tidak hanya berdampak pada kualitas gizi, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.
Sejumlah orangtua mendesak agar mekanisme distribusi MBG dijelaskan secara terbuka. Mereka meminta klarifikasi mengenai:
Berapa besaran anggaran MBG per siswa per hari yang dialokasikan pemerintah.
Apakah diperbolehkan secara regulasi untuk menggabungkan anggaran tiga hari menjadi satu paket distribusi.
Bagaimana pengawasan kualitas dan nilai gizi ketika makanan tidak diberikan secara harian.
Kritikan keras pun diarahkan kepada Satuan Tugas SPPG agar segera melakukan evaluasi dan pengawasan menyeluruh terhadap pelaksanaan program di lapangan. Para orangtua menilai, sangat disayangkan apabila anggaran yang bersumber dari pemerintah dan diperuntukkan bagi para pelajar tidak dimanfaatkan secara optimal dan sesuai peruntukannya.
“Program ini sangat baik dan kami mendukung penuh. Tapi pelaksanaannya harus transparan dan sesuai aturan. Jangan sampai hak anak-anak kami berkurang,” tegas perwakilan orangtua.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait diharapkan segera memberikan penjelasan resmi guna menjawab keresahan masyarakat serta memastikan bahwa pelaksanaan program benar-benar sejalan dengan tujuan awalnya, yakni meningkatkan asupan gizi dan kesejahteraan peserta didik. (**)
