RuangRakyatGarut.id 31 Oktober 2026 — Kepedulian terhadap warga yang tertimpa musibah kembali ditunjukkan anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan. Kali ini, ia menyambangi Ujang Sopian, seorang marbot Masjid Nurul Yaqin sekaligus guru ngaji Madrasah Diniyah Nurul Yaqin, yang kehilangan rumah tempat tinggal akibat musibah kebakaran.
Kebakaran tersebut terjadi pada Jumat, 30 Oktober 2026, sekitar pukul 14.10 WIB, di Kampung Padasono RT 01 RW 02, Desa Padasuka, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut.
Peristiwa nahas itu tidak hanya menghanguskan rumah milik Ujang Sopian yang berada tepat di samping bangunan Madrasah Diniyah Nurul Yaqin, tetapi juga mengakibatkan dua lokal bangunan madrasah terbakar. Bahkan, sebagian atap Masjid Nurul Yaqin turut terdampak kobaran api.
Akibat kejadian tersebut, Ujang Sopian bersama keluarganya harus kehilangan tempat tinggal beserta berbagai harta benda yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka. Tidak hanya itu, sejumlah dokumen penting keluarga juga ikut hangus terbakar, termasuk ijazah sekolah anak-anaknya.
Pada Sabtu, 31 Oktober 2026, Yudha Puja Turnawan bersama jajaran DKP Garut, Danramil Cikajang Kapten Inf. Cacu Ruswandi, Kepala Desa Padasuka Dede Wawan Setiawan, serta Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Cikajang, Dida Komara, mengunjungi kediaman Ujang Sopian untuk melihat langsung kondisi keluarga yang terdampak musibah.
Dalam kunjungan tersebut, Yudha menyerahkan bingkisan sembako dan santunan uang tunai sebagai bentuk kepedulian serta dukungan moril kepada Ujang Sopian dan keluarganya. Sementara itu, DKP Garut juga turut memberikan bantuan berupa bingkisan sembako.
Menurut Yudha, kunjungan tersebut bukan sekadar memberikan bantuan materi, melainkan juga menjadi upaya untuk menguatkan hati Ujang Sopian dan keluarganya agar tetap tabah menghadapi cobaan berat yang sedang dialami.
Ia menyampaikan bahwa kehilangan rumah dan seluruh harta benda tentu menjadi pukulan berat bagi sebuah keluarga. Terlebih, dokumen-dokumen penting yang memiliki nilai dan kegunaan bagi masa depan anak-anaknya juga ikut musnah dalam kebakaran tersebut.
Karena itu, Yudha meminta Kepala Desa Padasuka agar membantu dan memfasilitasi proses pengurusan kembali seluruh dokumen penting milik Ujang Sopian dan keluarganya, termasuk ijazah sekolah anak-anaknya yang terbakar.
Menurutnya, pemerintah desa perlu hadir membantu masyarakat yang mengalami musibah, termasuk memastikan dokumen administrasi kependudukan maupun dokumen pendidikan yang hilang dapat diurus kembali sesuai ketentuan.
Lebih jauh, Yudha kembali menyoroti pentingnya Pemerintah Kabupaten Garut segera membentuk Forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP). Keberadaan forum tersebut dinilai sangat penting untuk mengoptimalkan kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat dalam membantu warga yang mengalami persoalan sosial maupun bencana.
Ia berharap melalui forum TJSLP, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Garut dapat berkontribusi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), termasuk membantu pembangunan kembali rumah warga yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran.
Selain itu, Yudha juga menegaskan pentingnya peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Garut untuk hadir membantu masyarakat yang tertimpa musibah dan kehilangan tempat tinggal beserta seluruh harta bendanya.
Menurutnya, Ujang Sopian dan keluarga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak dan perlahan memulihkan kehidupan mereka setelah musibah kebakaran.
Musibah yang menimpa Ujang Sopian menjadi pengingat bahwa persoalan kemanusiaan membutuhkan kepedulian dan gotong royong semua elemen masyarakat. Tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan keluarga korban untuk bangkit sendiri, tetapi diperlukan kehadiran pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha, serta masyarakat luas.
Di tengah berbagai persoalan dan kesibukan masing-masing, kepedulian terhadap sesama menjadi nilai penting yang tidak boleh hilang. Sebab, musibah dapat menimpa siapa saja dan kapan saja.
“Pertanyaan untuk kita semua, siapa diri kita jika kita abai kepada derita sesama?”
Pertanyaan tersebut menjadi refleksi bahwa kepedulian sosial bukan sekadar tentang seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan tentang kesediaan untuk hadir, menguatkan, dan bergotong royong membantu sesama yang sedang menghadapi kesulitan.
