Ruangrakyatgarut.id 20 September 2026 — Dinamika regenerasi kepemimpinan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Barat menjadi momentum untuk mempertajam kembali arah gerakan mahasiswa di tengah kompleksitas persoalan masyarakat.
Jajang Saepuloh, S.IP., M.Si., dimisioner Ketua GMNI Garut sekaligus akademisi/pengamat kebijakan publik, menyatakan kesiapannya untuk masuk dalam proses pencalonan Ketua GMNI Jawa Barat dengan membawa agenda penguatan organisasi, kaderisasi, intelektualitas, dan perjuangan kerakyatan.
Menurut Jajang, tantangan GMNI Jawa Barat hari ini bukan sekadar persoalan siapa yang memimpin, tetapi ke mana organisasi akan dibawa dan seberapa nyata keberadaannya dirasakan oleh kader serta masyarakat.
“GMNI tidak boleh hanya sibuk dengan persoalan internal organisasi. Di luar sana rakyat menghadapi persoalan pendidikan, lapangan pekerjaan, ketimpangan ekonomi, agraria, lingkungan, kemiskinan, dan pelayanan publik. Di situlah seharusnya kader GMNI hadir dan bekerja,” ujar Jajang.
BUKAN SEKADAR PERGANTIAN KETUA
Jajang menilai pergantian kepemimpinan harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola organisasi.
Ia menawarkan pembahasan terbuka mengenai setidaknya tujuh agenda pembaruan GMNI Jawa Barat:
- Reformasi kaderisasi
Kaderisasi harus kembali menjadi jantung organisasi. Pendidikan ideologi, Marhaenisme, kepemimpinan, kemampuan akademik, dan keterampilan advokasi perlu dibangun secara sistematis. - Konsolidasi DPC dan komisariat
Hubungan struktural antara DPC, komisariat, dan kader perlu diperkuat agar GMNI Jawa Barat memiliki koordinasi gerakan yang lebih solid. - Menghidupkan tradisi intelektual
GMNI perlu memperbanyak kajian, riset, diskusi publik, dan policy brief mengenai persoalan Jawa Barat sehingga kritik terhadap kebijakan tidak berhenti pada pernyataan, tetapi berbasis data. - Memperkuat gerakan kerakyatan
Kader harus memiliki ruang nyata untuk melakukan advokasi terhadap persoalan masyarakat, khususnya kelompok yang rentan secara ekonomi dan sosial. - Membangun jaringan strategis
GMNI perlu memperluas jejaring dengan kampus, akademisi, organisasi masyarakat, komunitas, kelompok pemuda, dan berbagai elemen masyarakat sipil dengan tetap menjaga independensi organisasi. - Transparansi dan akuntabilitas organisasi
Pengelolaan organisasi harus dapat dipertanggungjawabkan. Transparansi administrasi, program, dan keuangan menjadi bagian penting dari pembentukan kultur organisasi yang sehat. - Menyiapkan kader untuk masa depan
GMNI harus mampu melahirkan kader yang siap mengabdi di berbagai bidang tanpa kehilangan identitas dan nilai perjuangannya sebagai kader GMNI.
GMNI HARUS BERANI MENGKRITIK, TETAPI JUGA MAMPU MENAWARKAN SOLUSI
Jajang menegaskan bahwa sikap kritis merupakan bagian dari tradisi gerakan mahasiswa. Namun, kritik harus dibangun berdasarkan data, kajian, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
“Kita tidak ingin GMNI hanya dikenal karena demonstrasi. GMNI harus dikenal karena kadernya mampu membaca persoalan, melakukan kajian, menyampaikan kritik, sekaligus menawarkan solusi,” katanya.
Menurutnya, Jawa Barat memiliki persoalan pembangunan yang sangat kompleks. Karena itu, organisasi mahasiswa harus mampu menjadi bagian dari ruang intelektual yang membahas masa depan daerah.
DARI GARUT, MEMBAWA GAGASAN KE JAWA BARAT
Kemunculan Jajang dari Garut dalam dinamika pencalonan Ketua GMNI Jawa Barat juga menjadi bagian dari aspirasi untuk memperluas kontribusi kader dari daerah.
Garut, kata Jajang, tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika organisasi tingkat Jawa Barat.
“Saya membawa gagasan dari daerah. Tetapi ketika berbicara Jawa Barat, kepentingannya harus lebih luas. Tidak boleh ada ego daerah. Yang kita bangun adalah GMNI Jawa Barat yang kuat secara ideologi, sehat secara organisasi, dan nyata dalam perjuangan kerakyatan.”
Jajang juga mengingatkan seluruh kader agar proses regenerasi kepemimpinan tidak berubah menjadi konflik antarkelompok.
Baginya, kompetisi kepemimpinan harus menjadi kompetisi gagasan, bukan kompetisi untuk saling menjatuhkan.
“PEJUANG PEMIKIR, PEMIKIR PEJUANG”
Jajang menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa identitas GMNI sebagai organisasi kader harus terus dijaga.
“Kita membutuhkan GMNI yang tidak kehilangan akar perjuangan. Pejuang Pemikir dan Pemikir Pejuang bukan sekadar slogan. Itu harus tercermin dalam kualitas kader, keberanian bersikap, kedalaman berpikir, dan kerja nyata bersama rakyat.”
Proses pencalonan Ketua GMNI Jawa Barat selanjutnya menjadi ruang bagi seluruh kader untuk memperdebatkan gagasan, mengevaluasi perjalanan organisasi, serta menentukan arah GMNI Jawa Barat sesuai mekanisme demokrasi internal organisasi.
Jajang Saepuloh, S.IP., M.Si.
Dimisioner Ketua GMNI Garut | Akademisi/Pengamat Kebijakan Publik
