Ruangrakyatgarut.id – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKB, Aceng Malki, menggelar kegiatan Sapa Warga Berbasis Budaya sebagai bagian dari program Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Jumat (10/4/2026), di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatul Faizin.
Kegiatan berlangsung semarak dan sarat nuansa kearifan lokal. Sejak awal, masyarakat tampak antusias mengikuti rangkaian acara yang memadukan hiburan, edukasi, serta dialog publik dalam balutan budaya Sunda. Pendekatan ini menciptakan suasana hangat dan akrab, sekaligus mempererat kedekatan antara wakil rakyat dan masyarakat.
Atraksi Pencak Silat Sinar Pusaka menjadi salah satu penampilan yang paling menyita perhatian. Gerakan yang dinamis dan penuh filosofi mencerminkan nilai keberanian serta kedisiplinan dalam tradisi Sunda. Selain itu, para santri turut menampilkan seni vokal religi yang menggambarkan harmonisasi antara nilai budaya dan spiritualitas.
Tak sekadar hiburan, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog terbuka. Warga diberi kesempatan menyampaikan aspirasi terkait berbagai persoalan, mulai dari sosial, ekonomi, hingga pembangunan daerah. Pendekatan budaya membuat interaksi berlangsung lebih cair dan membumi.
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menjaga Aspirasi: Transformasi Budaya dalam Kebijakan Publik”, kegiatan ini menegaskan bahwa budaya memiliki peran strategis dalam pembangunan. Seni yang ditampilkan tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan tradisi di tengah arus modernisasi.
Dalam sambutannya, Aceng Malki menegaskan bahwa budaya harus menjadi fondasi dalam pembangunan, bukan sekadar pelengkap kegiatan seremonial.
“Budaya Sunda memiliki nilai-nilai luhur seperti gotong royong, silih asah, silih asih, dan silih asuh. Nilai-nilai ini harus terus kita jaga dan jadikan dasar dalam setiap kebijakan pembangunan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan berbasis budaya mampu menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek aktif dalam proses pembangunan.
Menurutnya, Sapa Warga Berbasis Budaya merupakan langkah konkret dalam menjaga identitas lokal di tengah derasnya arus globalisasi. Budaya Sunda, kata dia, bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga kekuatan sosial yang mampu membangun karakter dan mempererat persatuan.
“Pembangunan tidak boleh tercerabut dari akar budaya. Justru budaya harus menjadi ruh dalam setiap kebijakan agar masyarakat merasa memiliki dan terlibat langsung,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan budaya. Seni tradisional seperti pencak silat, seni vokal, dan budaya pesantren diharapkan terus hidup dan berkembang seiring perkembangan zaman.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menghadirkan ruang komunikasi publik yang lebih inklusif dan humanis. Pendekatan budaya dinilai efektif dalam menyerap aspirasi masyarakat secara lebih optimal.
Di akhir kegiatan, suasana kebersamaan tampak kental. Warga, tokoh masyarakat, dan santri berbaur tanpa sekat, mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas budaya Sunda.
Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat semakin kuat, serta budaya Sunda terus tumbuh, beradaptasi, dan menjadi fondasi dalam pembangunan daerah ke depan.
