Ruangrakyatgarut.id 21 Maret 2026 – Kegagalan Persigar Garut menjadi tuan rumah Liga 4 Nasional 2026 bukan sekadar kabar biasa, tetapi menjadi sorotan serius terhadap kesiapan infrastruktur dan tata kelola olahraga di Kabupaten Garut.
Keputusan pencoretan tersebut mempertegas bahwa Garut dinilai belum memenuhi standar untuk menggelar ajang sepak bola tingkat nasional. Sejumlah faktor krusial, terutama kondisi stadion dan fasilitas pendukung, disebut belum layak sesuai ketentuan penyelenggara.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar terkait arah pembinaan dan pembangunan olahraga di daerah. Padahal, kesempatan menjadi tuan rumah seharusnya menjadi momentum strategis untuk meningkatkan citra daerah sekaligus mendorong pergerakan ekonomi masyarakat.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Garut dinilai belum siap, bahkan pada aspek paling dasar, yakni kelayakan fasilitas. Kondisi ini dianggap sebagai cerminan lemahnya perencanaan serta kurangnya keseriusan dalam pengembangan sarana olahraga yang representatif.
Selain itu, minimnya sinergi antar pemangku kepentingan juga menjadi sorotan. Baik pemerintah daerah maupun pihak terkait di sektor sepak bola dinilai belum mampu menghadirkan standar yang dibutuhkan untuk kompetisi nasional.
Status sebagai tuan rumah sejatinya bukan hanya soal gengsi, melainkan menyangkut kepercayaan. Ketika peluang tersebut gagal dimanfaatkan, yang dipertaruhkan bukan hanya kesempatan, tetapi juga kredibilitas daerah di tingkat nasional.
Dampak langsung dari keputusan ini dirasakan oleh Persigar Garut yang harus menjalani pertandingan putaran nasional di luar kandang. Kondisi tersebut berpotensi merugikan secara teknis maupun psikologis, karena tim kehilangan dukungan langsung dari suporter.
Di tengah kekecewaan publik, tuntutan evaluasi menyeluruh mulai menguat. Banyak pihak menilai perlu adanya langkah konkret, bukan sekadar penjelasan teknis, melainkan pengakuan atas adanya persoalan sistemik dalam pengelolaan olahraga daerah.
Kondisi ini menjadi peringatan bahwa tanpa pembenahan serius—baik dari sisi infrastruktur maupun manajemen—Garut berisiko terus tertinggal, tidak hanya dalam hal penyelenggaraan event, tetapi juga dalam pencapaian prestasi.
Kegagalan ini menjadi alarm penting: tanpa kesiapan nyata, ambisi besar untuk memajukan sepak bola daerah hanya akan berhenti sebagai rencana tanpa realisasi.
