Ruangrakyatgarut.id 12 Januari 2026 — Di tengah gencarnya slogan Garut Hebat dan narasi kemajuan pendidikan, realitas pahit justru terjadi di Kecamatan Banjarwangi. Sebanyak 105 siswa MI Darul Hikmah terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di tenda darurat beratapkan terpal, akibat bangunan sekolah yang bocor, lapuk, dan nyaris roboh.
Ironisnya, kondisi memprihatinkan ini dibiarkan berlarut-larut. Demi keselamatan siswa, pihak sekolah tak punya pilihan selain memindahkan proses belajar ke luar kelas. Ruang belajar darurat yang jauh dari kata layak itu menjadi saksi betapa hak dasar anak-anak atas pendidikan yang aman dan manusiawi masih terabaikan.
Kepala MI Darul Hikmah, Ade Budi, S.Pd.I, mengaku sedih sekaligus prihatin melihat anak didiknya harus belajar dalam kondisi serba darurat.
“Ini sangat menyedihkan. Bangunan sekolah sudah tidak layak, bocor, dan berbahaya. Kami terpaksa mendirikan tenda agar anak-anak tetap bisa belajar, meski jauh dari standar pendidikan yang semestinya,” tegasnya.
Ia menuntut pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera turun tangan, bukan sekadar janji dan pencitraan.
“Pemerintah harus cepat tanggap. Jangan menunggu korban atau bangunan benar-benar roboh. Anak-anak tetap belajar dengan semangat luar biasa, tapi semangat saja tidak cukup tanpa dukungan nyata,” lanjut Ade Budi.
MI Darul Hikmah yang berlokasi di Kampung Cipadung RT 01/RW 06, Desa Bojong, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, saat ini menampung 105 siswa. Mereka terpaksa menimba ilmu di bawah terik matahari dan ancaman cuaca, sebuah kondisi yang jauh dari kata layak di era modern.
Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di Garut. Ketika jargon kemajuan terus digaungkan, fakta di lapangan justru memperlihatkan ketimpangan dan kelalaian. Pemerintah dituntut berhenti menutup mata dan segera mengambil langkah konkret agar tragedi pendidikan semacam ini tidak terus berulang.
