Ruangrakyatgarut.id 02 Maret 2026 – Mamat bin Sutomo, yang dikenal luas dengan julukan Mat Peci, menjadi salah satu tokoh kriminal paling kontroversial di Jawa Barat pada era 1970‑an. Namanya melekat karena selalu memakai peci hitam saat beraksi, menimbulkan ketakutan di berbagai wilayah.
Lahir di Leuwigoong, Garut, Mat Peci berasal dari keluarga terpandang. Masa kecilnya normal, namun hidupnya berubah drastis ketika kisah cintanya dengan seorang gadis bernama Euis tidak mendapat restu keluarga, membuat hubungan mereka kandas dan meninggalkan luka batin yang mendalam.
Patah hati ini mendorong Mat Peci merantau ke Bandung, bekerja sebagai calo tiket bioskop di kawasan Cicadas. Di sinilah ia mulai bergaul dengan preman lokal dan perlahan terjerumus ke dunia kriminal yang kelak membuat namanya tersohor.
Di Bandung, Mat Peci dikenal karena aksi perampokan bersenjata dan kekejaman yang ekstrem. Ia tak segan membunuh korban tak bersalah, bahkan aparat polisi, demi merampas senjata. Aksinya menebarkan ketakutan, menjadikannya sosok kontroversial dan ditakuti masyarakat setempat.
Selain kriminalitas, kehidupan pribadinya ikut menjadi sorotan. Mat Peci kembali bertemu dengan Euis yang kini bekerja di kawasan lokalisasi Cicadas. Kisah cinta lama itu kembali bersemi, menambah dimensi tragis pada legenda kriminalnya.
Mat Peci bahkan bermimpi mengumpulkan hasil kejahatan untuk membantu Euis keluar dari dunia pelacuran. Mereka sempat pergi ke Danau Cangkuang, Garut, dan berjanji menikah, meskipun kenyataan kemudian memaksa mereka berpisah karena pengejaran polisi.
Kisah cinta ini, dikombinasikan dengan aksi kriminalnya, menjadikan Mat Peci simbol buronan yang penuh drama, menggabungkan elemen kekerasan, cinta, dan pelarian dalam satu narasi tragis.
Pada 4 Februari 1978, Mat Peci disergap polisi di Stasiun Leuwigoong, Garut, saat berusaha melarikan diri. Dalam baku tembak yang dramatis, ia tewas di tangan aparat, menutup perjalanan kontroversial seorang kriminal legendaris.
Kematian Mat Peci tidak menghapus pengaruhnya. Nama dan kisah hidupnya terus menjadi bagian cerita sejarah kriminal Jawa Barat, dibicarakan masyarakat dan dijadikan peringatan akan konsekuensi kriminalitas ekstrem.
Karena ketenarannya, kisah nyata Mat Peci kemudian diangkat ke layar lebar. Film berjudul Mat Peci (Pembunuh Berdarah Dingin) dirilis pada 1978, disutradarai oleh Willy Wilianto dan dibintangi Rachmat Hidayat sebagai Mat Peci serta Doris Callebaute sebagai Euis.
Film ini menyoroti aksi brutal, cinta tragis, dan pelarian sang bandit, menjadi salah satu adaptasi cerita kriminal nyata pertama di Indonesia dan menarik perhatian luas masyarakat Jawa Barat.
Perjalanan hidup Mat Peci, dari anak kampung yang patah hati hingga buronan paling dicari, kini menjadi legenda yang terus diingat. Kisahnya menggabungkan sisi gelap kriminalitas, tragedi cinta, dan budaya lokal, menjadikannya figur kontroversial sekaligus legendaris di sejarah kriminal Indonesia.
