Oplus_131072
Ruangrakyatgatut.id 25 Maret 2026 – Upaya mempererat hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat terus dilakukan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Aten Munajat, dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan bertajuk Sapa Warga Berbasis Budaya yang digelar di Lapang Pangatikan.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan ruang silaturahmi yang hidup dan dialogis antara masyarakat dengan wakil rakyat. Mengusung pendekatan budaya, acara dikemas secara inklusif dan membumi, menghadirkan nuansa kearifan lokal yang lekat dengan kehidupan masyarakat Sunda.
Sejak awal kegiatan, antusiasme warga terlihat tinggi. Lapangan dipadati berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, pemuda, hingga keluarga yang datang untuk menikmati suasana kebersamaan. Selain berdialog langsung, warga juga disuguhkan beragam pertunjukan seni tradisional khas Sunda, seperti jaipong, rampak kendang, pencak silat, hingga reog yang semakin menghidupkan suasana.
Dalam kesempatan tersebut, H. Aten Munajat menegaskan bahwa pendekatan berbasis budaya merupakan strategi efektif untuk membangun komunikasi yang lebih hangat, terbuka, dan tanpa sekat antara pemerintah dan masyarakat.
“Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin hadir bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Aspirasi warga adalah dasar dari setiap kebijakan yang kita perjuangkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan budaya mampu menciptakan ruang interaksi yang lebih natural, sehingga masyarakat merasa lebih nyaman dalam menyampaikan aspirasi, keluhan, maupun harapan terhadap pembangunan daerah.
Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi bentuk komitmen dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya lokal. Menurutnya, budaya Sunda bukan sekadar identitas, melainkan fondasi nilai yang membentuk karakter masyarakat Jawa Barat.
“Budaya harus tetap hidup di tengah masyarakat. Kesenian seperti jaipong, reog, dan pencak silat adalah warisan yang tidak boleh hilang di tengah arus modernisasi,” tegasnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pembentukan karakter generasi muda. Seni tradisional, lanjutnya, mengandung nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, disiplin, dan rasa hormat yang tetap relevan dalam kehidupan sosial saat ini.
Selain aspek budaya, Aten juga menyoroti keterkaitan antara aktivitas budaya dengan kesehatan sosial masyarakat. Ia menilai, keterlibatan warga dalam kegiatan budaya mampu memperkuat ikatan sosial sekaligus meningkatkan kesejahteraan mental.
“Budaya juga bagian dari kesehatan masyarakat. Ketika masyarakat berkumpul, berinteraksi, dan berkarya bersama, itu menciptakan energi positif yang berdampak baik bagi kehidupan sosial,” ungkapnya.
Aten turut menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas seni, dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal. Ia menilai, negara-negara maju umumnya memiliki kesadaran tinggi dalam merawat identitas budaya sebagai kekuatan nasional.
Kegiatan Sapa Warga Berbasis Budaya pun mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Selain menjadi hiburan, berbagai pertunjukan seni yang ditampilkan menjadi bukti bahwa budaya lokal masih hidup, berkembang, dan dicintai.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat antara pemerintah dan masyarakat. Dengan komunikasi yang terbuka dan berbasis nilai budaya, pembangunan daerah diharapkan dapat berjalan lebih tepat sasaran, inklusif, dan berkelanjutan.
Pelestarian budaya Sunda pun diharapkan tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan menjadi gerakan bersama yang terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang di tengah dinamika kehidupan modern. (Hil)
