Ruangrakyatgarut.id 02 Maret 2026 — Pernyataan Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, yang menyebut pembangunan daerah sudah on the track mendapat sorotan tajam dari kalangan aktivis.
Klaim tersebut disampaikan dalam apel gabungan pada Senin (2/3/2026), sebagai bantahan atas penilaian Wakil Bupati yang sebelumnya menganggap sejumlah janji kampanye pasangan Syakur–Putri belum tercapai dalam satu tahun pemerintahan.
Bupati berdalih, peningkatan Indeks Daya Saing Investasi menjadi bukti konkret bahwa arah kebijakan sudah tepat.
Ia menyebut masuknya sejumlah industri sebagai indikator kepercayaan investor terhadap stabilitas dan potensi ekonomi Garut.
Namun, aktivis Garut, Rawink Rantik, menilai argumentasi tersebut terlalu sempit dan berpotensi menyesatkan opini publik jika tidak dibarengi kejujuran membaca realitas di lapangan.
“Angka bisa naik, indeks bisa meningkat. Tapi pertanyaannya, siapa yang paling diuntungkan? Rakyat atau investor?” tegas Rawink saat ditemui di kediamannya.
Menurutnya, kenaikan daya saing investasi tidak boleh dipahami secara simplistik sebagai keberhasilan mutlak. Ia menyoroti bahwa salah satu faktor utama yang membuat industri besar melirik Garut adalah rendahnya upah tenaga kerja dibandingkan daerah lain.
“Kalau keunggulan kita hanya karena upah murah, itu bukan prestasi. Itu cermin lemahnya posisi tawar pekerja. Jangan sampai daya saing dibangun di atas keterbatasan kesejahteraan buruh,” ujarnya.
Rawink juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup berhenti pada indikator makro seperti indeks atau angka statistik. Ia menuntut transparansi pemerintah dalam memaparkan dampak riil investasi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, penyerapan tenaga kerja lokal, serta perlindungan hak-hak pekerja.
Lebih jauh, ia menilai narasi on the track harus diuji dengan data komprehensif, bukan sekadar klaim seremonial. “Kalau memang di jalur yang benar, tunjukkan perubahan nyata di lapangan: daya beli meningkat, kemiskinan turun signifikan, pengangguran menyusut, dan kualitas hidup membaik,” katanya.
Polemik ini menegaskan bahwa publik Garut tidak hanya membutuhkan optimisme, tetapi juga kejujuran dan keberanian mengevaluasi capaian secara objektif. Sebab pada akhirnya, keberhasilan pemerintahan bukan diukur dari tepuk tangan dalam apel, melainkan dari seberapa jauh kebijakan benar-benar menyentuh dan mengangkat kehidupan masyarakat. (**)
