Ruangrakyatgarut.id 18 februari 2026 -Hari Jadi Garut (HJG) ke-213 pada tahun 2026 seharusnya bukan sekadar seremoni tabur bunga atau kemeriahan parade semata. Di tengah dinamika ekonomi global dan tantangan lokal yang kian nyata, perayaan ini menuntut refleksi kritis: apakah Garut sedang bertumbuh, atau sekadar bertahan hidup?Dua abad lebih usia Garut bukanlah waktu yang singkat. Namun merayakan hari jadi dengan pesta pora di tengah himpitan ekonomi masyarakat adalah ironi yang menyakitkan. Kita tidak butuh sekadar parade; kita butuh komitmen nyata.
Sering kali anggaran besar dikucurkan untuk mempercantik pusat kota demi menyambut hari jadi. Ini tak ubahnya gemerlap estetika yang berkontradiksi dengan realitas sosial. Di balik kemeriahan di Alun-alun dan titik-titik strategis lainnya, pertanyaan mendasar muncul: sejauh mana perayaan itu dirasakan petani di Cikajang atau nelayan di Rancabuaya yang sedang berjuang menghadapi kenaikan biaya produksi? Garut masih memiliki pekerjaan rumah besar terkait angka kemiskinan di Jawa Barat. Perayaan tanpa kebijakan transformatif hanya akan menjadi kosmetik di atas luka sosial.
Swiss Van Java dan Krisis Ekologis
Garut yang menyandang julukan indah Swiss Van Java sesungguhnya tengah menghadapi tantangan ekologis serius. Bencana tahunan seperti banjir bandang dan longsor seolah menjadi tamu tak diundang yang rutin datang.
Refleksi HJG harus menyentuh tata kelola hulu sungai dan alih fungsi lahan hutan yang ugal-ugalan. Apakah perayaan tahun ini sudah mencerminkan komitmen terhadap pemulihan lingkungan sebagai bagian dari prinsip pembangunan berkelanjutan? Ataukah hanya fokus pada eksploitasi ruang tanpa batas? Kita menuntut kebijakan tata ruang yang tegas, bukan sekadar penanaman pohon simbolis di depan kamera.
Potensi UMKM dan Kedaulatan Ekonomi
Secara ekonomi, Garut memiliki potensi UMKM yang luar biasa: kuliner, industri kulit Sukaregang, tenun, hingga produk agraris. Namun di tengah krisis, masih banyak perajin lokal tergilas produk impor di platform e-commerce.
Sebagai daerah agraris, sangat ironis jika masyarakatnya masih bergulat dengan harga pangan yang fluktuatif. HJG seharusnya menjadi momentum evaluasi kedaulatan pangan lokal dan kemandirian ekonomi daerah. Apakah kebijakan yang ada sudah benar-benar memperkuat rantai produksi lokal, atau justru membiarkan ketergantungan pasar luar terus menguat?
Birokrasi dan Pengangguran Muda
Krisis menuntut gerak cepat (agile governance). Hari Jadi adalah waktu yang tepat untuk mengaudit kinerja pelayanan publik. Apakah birokrasi sudah mempermudah investasi yang menyerap tenaga kerja lokal? Ataukah prosedur masih berbelit sementara angka pengangguran muda terus meningkat? Menjadi “Tata Tentrem Kerta Raharja” bukan sekadar slogan di atas spanduk. Ia adalah mandat moral dan politik bagi setiap pemangku kebijakan untuk memastikan kemajuan diukur dari isi piring masyarakat paling bawah, bukan dari megahnya panggung hiburan tahunan.
Catatan Kritis
Hari Jadi Garut di tengah krisis adalah pengingat bahwa daya tahan warga Garut begitu hebat. Namun resiliensi rakyat tidak boleh terus-menerus “diuji” oleh kebijakan yang tidak berpihak.
Perayaan terbaik bukanlah gemerlap lampu dan dentuman musik, melainkan lahirnya kebijakan konkret:
Penurunan angka stunting.
Perbaikan jalan rusak di pelosok.
Penguatan UMKM lokal agar berdaya saing
.Perlindungan hutan dan tata ruang berkelanjutan.
Mari jadikan HJG 213 sebagai titik balik: berhenti memuja seremonial, mulai bekerja untuk substansi. Karena sejarah tidak hanya mencatat usia sebuah daerah, tetapi juga keberanian generasinya untuk berubah.
(Oleh: Abah Muda 212)
