Ruangrakyatgarut.id 15 februari 2026 — Peresmian operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Rafifa Putra Gunawan di Desa Sindanggalih, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut.
Peresmian tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat, Adji Suprawan, yang mewakili Gubernur Jawa Barat. Turut hadir Kepala SPPG Sindanggalih H. Ega Gunawan, S.H., M.H., M.Si., Camat Karangpawitan Anas Aolia Malik, M.Si., serta jajaran Forkopimda.
Prosesi peresmian ditandai dengan pengguntingan pita, penandatanganan prasasti, serta pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas mulai beroperasinya fasilitas pelayanan gizi tersebut.
Capaian SPPG Lampaui TargetDalam sambutannya, Adji Suprawan mengungkapkan bahwa pembangunan SPPG di Jawa Barat menunjukkan capaian yang menggembirakan. Dari target 4.600 unit, realisasi telah melampaui angka tersebut dan mendekati 4.700 unit.
Khusus di Kabupaten Garut, dari target 396 unit, realisasi telah mencapai 411 unit atau sekitar 111 persen. Meski demikian, ia menegaskan masih banyak sasaran penerima manfaat yang belum sepenuhnya terlayani.
“Anak-anak didik mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, madrasah, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita masih belum seluruhnya terlayani. Dengan beroperasinya SPPG Sindanggalih ini, kami berharap percepatan pelayanan dapat semakin optimal,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Garut yang telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Pembangunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diketuai Sekretaris Daerah Kabupaten Garut. “Langkah ini sangat positif untuk memastikan program berjalan optimal dan tepat sasaran,” tambahnya.
Higienitas dan Keamanan Pangan Jadi PrioritasAdji Suprawan turut meninjau langsung fasilitas dapur SPPG Sindanggalih. Berdasarkan hasil peninjauan awal, standar kebersihan, sanitasi, dan ketersediaan air bersih dinilai telah memenuhi ketentuan. Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) pun tengah dalam proses.
Namun ia menegaskan, yang terpenting bukan sekadar kelengkapan administrasi, melainkan konsistensi dalam menjaga standar operasional.
“Keamanan pangan harus diperhatikan sejak bahan mentah datang, bagaimana diolah sesuai kaidah, hingga makanan siap dikonsumsi. Makanan tidak boleh lebih dari empat jam sejak matang sampai dikonsumsi karena berpotensi muncul mikroorganisme,” tegasnya.
Target Layani 2.750 Penerima ManfaatKepala SPPG Sindanggalih, H. Ega Gunawan, menjelaskan bahwa pihaknya telah melalui proses panjang sebelum resmi beroperasi. Yayasan Rafifa Putra Gunawan telah mendaftarkan diri sebagai mitra dan terverifikasi oleh Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk keluarnya ID dapur.
“Alhamdulillah, seluruh proses administrasi sudah kami tempuh. Kami tinggal menunggu turunnya KASPPG dari BGN sebelum operasional berjalan penuh,” ujarnya.
Pada tahap awal, SPPG Sindanggalih ditargetkan melayani 2.750 penerima manfaat, terdiri dari 2.000 siswa sekolah dan 750 penerima kategori B3 di sejumlah desa. Ibu hamil dan kelompok rentan lainnya juga termasuk dalam cakupan program.Dari sisi ketenagakerjaan, sebanyak 47 tenaga kerja dilibatkan sesuai juklak dan juknis yang berlaku. Sebanyak 15 orang merupakan warga lokal Kampung Nagrog RW 02 dan RW 12, sementara sisanya berasal dari luar wilayah dengan tetap mengedepankan standar kompetensi.
Untuk memastikan operasional berjalan optimal, yayasan juga membentuk tim pengawasan internal.
“Walaupun sudah ada Kepala SPPG, yayasan tetap melakukan pemantauan. Karena pada akhirnya yayasan yang bertanggung jawab kepada negara, khususnya kepada BGN,” tegas Ega.
Dengan mulai beroperasinya SPPG Sindanggalih Karangpawitan, diharapkan pelayanan pemenuhan gizi bagi peserta didik dan kelompok rentan semakin luas dan berkualitas, sekaligus mendukung percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Garut. (**)
