Ruangrakyatgarut.id 01 April2026 – Sejumlah siswa dari beberapa sekolah di bawah Yayasan Al-Bukhori Bahrul Ulumuddin mengajukan komplain terkait temuan ayam dalam ompreng makan siang yang diduga berbau. Keluhan tersebut muncul setelah menu didistribusikan ke sejumlah satuan pendidikan pada siang hari.
Pihak SPPG Pasirwangi Pasir Kiamis langsung merespons laporan tersebut dengan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Mereka mengakui bahwa sebagian ayam mengalami penurunan kualitas sehingga menimbulkan ketidaknyamanan bagi para penerima manfaat.
Sejumlah guru dan murid juga menyoroti keterlambatan distribusi ompreng yang tiba pada siang hari, sehingga siswa harus menunggu lebih lama dari jadwal makan. Kondisi ini dinilai tidak profesional dan dinilai berpotensi memengaruhi kualitas makanan yang seharusnya disajikan dalam keadaan segar.
Dalam keterangan resminya, SPPG menjelaskan bahwa perubahan kualitas pada ayam diduga terjadi akibat waktu penyimpanan (holding time) yang terlalu lama. Pengiriman di siang hari membuat bahan makanan berada terlalu lama pada suhu yang tidak ideal sehingga kualitasnya menurun.
Pihak dapur menambahkan bahwa keterlambatan produksi dan distribusi dipicu oleh meningkatnya jumlah penerima manfaat program makan siang. Saat ini jumlah penerima manfaat mencapai 2.861 orang, sehingga proses produksi membutuhkan waktu lebih panjang untuk memastikan seluruh porsi selesai dengan baik.
“Kami menyadari bahwa kejadian ini merupakan kelalaian dari pihak dapur. Untuk itu, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh penerima manfaat,” tulis pihak SPPG dalam pernyataan resminya.
SPPG juga meminta agar permohonan maaf tersebut disampaikan kepada semua pihak yang terdampak, termasuk siswa, guru, tenaga kependidikan, penerima manfaat posyandu, hingga para kader di lapangan yang mendukung pelaksanaan program.
Pihak pengelola dapur menyatakan bahwa insiden ini menjadi momentum evaluasi penting dalam sistem operasional mereka. Perbaikan akan dilakukan, mulai dari manajemen waktu produksi, penjadwalan ulang distribusi agar dilakukan lebih pagi, hingga peningkatan standar kontrol kualitas bahan makanan.
Komitmen tersebut disampaikan sebagai upaya menjaga kepercayaan sekolah dan masyarakat terhadap layanan dapur SPPG. Mereka berharap langkah evaluatif ini dapat meningkatkan kualitas penyajian makanan di masa mendatang serta mencegah insiden serupa terulang kembali.
Dalam penutup pernyataannya, SPPG mengucapkan terima kasih atas kritik dan perhatian dari berbagai pihak. Mereka menegaskan bahwa peningkatan mutu pelayanan akan terus menjadi prioritas demi memastikan kenyamanan dan keamanan konsumsi bagi seluruh penerima manfaat program makan siang.
