Ruangrakyatgarut.id 21 Agustus 2026 — Beredarnya foto yang kemudian dikenal sebagai “foto martabak” di tengah dinamika aksi Gerakan Masyarakat Banjarwangi–Singajaya–Peundeuy (GEMA BSP) memunculkan beragam tafsir di tengah masyarakat.
Salah satu koordinator lapangan aksi, Galih Raksa Yuliansyah, akhirnya memberikan klarifikasi terkait foto tersebut. Galih menegaskan bahwa dirinya merupakan orang yang mengambil foto tersebut. Namun, ia membantah jika foto itu dimaknai sebagai bukti adanya kepentingan tertentu atau upaya melemahkan perjuangan GEMA BSP.
Menurut Galih, foto tersebut diambil saat dirinya bersama Sekretaris GEMA BSP Jajang Nuralamin dan Korlap GEMA BSP Lukman melakukan pertemuan dengan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Garut.
Pertemuan itu, kata Galih, berlangsung pada 18 Agustus 2026 sekitar pukul 21.00 WIB. Dalam pertemuan tersebut turut hadir Kasat Intelkam Polres Garut Asep serta Uje.
Galih menjelaskan, pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya komunikasi dan negosiasi terkait tuntutan masyarakat sekaligus pembahasan mengenai teknis serta lokasi pelaksanaan aksi.
“Waktu itu kami berniat negosiasi soal tuntutan. Jelas Pak Kadis yang mengundang karena beliau berniat datang ke Singajaya,” ujar Galih dalam klarifikasinya.
Negosiasi Sebelum Aksi
Galih mengungkapkan, pembahasan dalam pertemuan tersebut antara lain menyangkut kemungkinan pelaksanaan aksi di depan gedung DPRD Kabupaten Garut maupun opsi lainnya.
Selain itu, sempat dibahas kemungkinan pihak pemerintah daerah, DPRD, dan PUPR datang langsung ke wilayah Singajaya untuk melakukan komunikasi dengan masyarakat.
Namun, menurut Galih, pembahasan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan karena tuntutan yang disampaikan belum mampu diakomodasi oleh pihak PUPR.
Atas kondisi tersebut, rencana aksi GEMA BSP tetap dilanjutkan.
“Karena tidak terjadi kesepakatan, di mana Kadis PUPR tidak sanggup mengakomodasi tuntutan, maka aksi akan digelar,” katanya.
Galih menyebut pertemuan tersebut berlangsung singkat, sekitar 15 menit. Ia juga mengatakan pertemuan berlangsung di tengah perhatian publik yang saat itu tertuju pada pertandingan Persib.
Foto Beredar dan Memunculkan Tafsir
Polemik kemudian muncul setelah Galih mengirimkan foto tersebut kepada salah satu anggota grup koordinasi.
Galih mengaku, saat itu dirinya tengah merasa kecewa terhadap adanya keputusan mengenai perubahan rute aksi yang menurutnya dilakukan tanpa koordinasi bersama seluruh koordinator.
Ia mengatakan tidak mengetahui secara pasti proses yang kemudian membuat Lukman mundur dan meminta perubahan rute aksi menjadi di wilayah Banjarwangi.
Galih juga mengaku tidak dilibatkan dalam proses konsolidasi atau negosiasi terkait keputusan tersebut.
Rasa kecewa itulah yang kemudian membuat dirinya mengirimkan foto tersebut kepada salah satu anggota grup.
“Saya tidak menyampaikan narasi berlebih. Saya hanya bilang, ‘Aneh da geus waktuna tinggal turun aksi masih keneh loby-loby’,” ungkapnya.
Namun, foto tersebut kemudian beredar lebih luas dan memunculkan berbagai asumsi di tengah masyarakat.
Galih menilai konteks foto kemudian berkembang menjadi tafsir yang menurutnya tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya. Karena itu, ia merasa perlu memberikan klarifikasi agar masyarakat tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan sebuah foto.
Minta Fokus pada Substansi Perjuangan
Galih menegaskan, dirinya tidak ingin polemik mengenai foto tersebut justru menggeser perhatian publik dari substansi utama perjuangan GEMA BSP.
Menurutnya, aksi tersebut merupakan bentuk keresahan masyarakat terhadap persoalan pembangunan dan kondisi infrastruktur di wilayah selatan Kabupaten Garut.
“Hingga pada kesimpulannya dari aksi hari kemarin, menurut saya semuanya punya niat baik. Ini bahkan adalah gerakan alam sadar masyarakat yang sudah jengkel dengan kebijakan Pemkab,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa dalam proses perjuangan tersebut terdapat komunikasi yang kurang tepat di antara pihak-pihak yang terlibat. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu pemicu munculnya polemik di tengah masyarakat.
“Terlepas daripada kepentingan apa pun, tetaplah kepentingan rakyat di atas segalanya,” tegas Galih.
Ia meminta masyarakat tetap tenang dan kembali melihat substansi perjuangan GEMA BSP, yakni mendorong pemerataan serta keadilan pembangunan, khususnya bagi masyarakat wilayah selatan Garut.
Galih dan Lukman Saling Meminta Maaf
Terkait polemik tersebut, Galih mengatakan persoalan sudah dikomunikasikan dengan Lukman setelah aksi berlangsung.
Menurutnya, keduanya telah saling menyampaikan permintaan maaf atas miskomunikasi yang terjadi.
“Pasca aksi saya sudah berkomunikasi dengan Kang Lukman. Saya menyampaikan mohon maaf, dan dia juga meminta maaf atas miskomunikasi ini,” katanya.
Galih menilai klarifikasi tersebut penting karena foto yang awalnya berada dalam konteks komunikasi internal telah berkembang menjadi konsumsi publik dan memunculkan berbagai asumsi.
Ia berharap polemik mengenai “foto martabak” tidak kembali memperlebar perbedaan di antara para pejuang aksi maupun masyarakat.
Menurutnya, energi gerakan seharusnya kembali diarahkan pada persoalan utama, yakni memastikan tuntutan masyarakat terkait pembangunan dan perbaikan infrastruktur di wilayah selatan Kabupaten Garut mendapatkan tindak lanjut nyata dari pemerintah daerah.
“Supaya tidak ada asumsi liar soal foto martabak ini,” pungkasnya.
