Oplus_131072
Ruangrakyatgarut.id 03 Januari 2026 — Sejarah musik keras di Garut tidak tumbuh dari satu peran tunggal. Ia terbentuk dari pertemuan banyak ruang: panggung, jalanan, frekuensi radio, hingga gagasan yang sering kali lahir dengan risiko disalahpahami. Dalam lintasan itu, nama Aris Kharisma menempati posisi penting sebagai figur lintas medan yang berpengaruh dalam pembentukan budaya musik keras dan anak muda Garut.
Aris Kharisma dikenal bukan hanya sebagai pelaku, tetapi juga penggerak. Ia terlibat langsung sebagai MC, penggagas acara musik underground, pengelola radio berpengaruh, sekaligus penulis gagasan kritis yang beredar luas di ruang digital. Kehadirannya tidak terikat pada satu medium, melainkan menjalar ke berbagai simpul budaya yang membentuk satu generasi.
Latar belakang Aris turut memberi warna pada jalur hidupnya. Ia merupakan putra dari Sukarna ND, seorang aktivis yang dikenal luas dengan etos perlawanan dan keberpihakan pada nilai-nilai kritis. Di sisi lain, Aris juga merupakan cucu dari pemilik Dodol Picnic Garut, salah satu ikon industri lokal. Dua latar yang kontras tersebut justru bertemu dalam satu sikap: kebebasan berpikir dan keberanian bergerak di luar pakem kultural.
Pada akhir 1990-an, Aris tercatat sebagai MC pertama dalam acara musik keras di Garut. Peran MC pada masa itu tidak sekadar menjadi pembawa acara, tetapi berfungsi sebagai penghubung antara band, penonton, dan atmosfer perlawanan yang melekat pada skena musik keras.
Posisi ini menempatkan Aris di pusat dinamika awal perkembangan skena underground Garut.
Pengalaman tersebut berkelindan dengan masa mudanya di Bandung. Saat menempuh pendidikan di SMA Pasundan 8 Bandung, Aris aktif bergaul di kawasan belakang Bandung Indah Plaza (BIP), yang dikenal sebagai PI atau Riotic. Di ruang tersebut, ia berinteraksi dengan komunitas street punk anarko bersama sejumlah nama yang kemudian dikenal luas di skena jalanan Bandung.
Lingkungan ini menjadi ruang pembentukan kesadaran sosial dan politiknya.
Dari pengalaman itu, Aris kemudian terlibat dalam aktivitas Front Anti Fasis (FAF). Keterlibatannya bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari sikap politik yang konsisten dalam menolak berbagai bentuk fasisme, termasuk yang hadir dalam wajah keteraturan sosial dan kekuasaan sehari-hari.
Memasuki tahun 2002, Aris memperluas perannya melalui pengelolaan TRI FM. Radio tersebut berkembang menjadi medium yang sangat berpengaruh bagi anak muda Garut sepanjang periode 2002–2009. Di tengah minimnya pilihan media anak muda lokal, TRI FM menjelma sebagai poros utama budaya populer Garut.
Dengan sekitar 85 persen konten musik Barat dan pendekatan yang terpengaruh budaya MTV, TRI FM membentuk selera musik global generasi muda Garut. Berdasarkan riset AC Nielsen pada masanya, pendengar TRI FM didominasi usia 13–27 tahun dengan latar ekonomi relatif mapan serta tingkat pergaulan yang luas.
TRI FM tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga ruang legitimasi kultural. Band-band lokal berlomba menciptakan karya agar dapat diputar di TRI FM. Bahkan aktivitas sederhana seperti melakukan request lagu menjadi penanda status sosial di kalangan pelajar dan anak muda.
Puncak fenomena tersebut terjadi pada 2004 melalui acara meet and greet TRIDJ. Meski harga tiket tergolong tinggi untuk ukuran daerah, sebanyak 9.000 tiket terjual habis dalam waktu tiga hari, mencerminkan kuatnya keterikatan emosional pendengar terhadap radio tersebut.
Di luar dunia siaran, Aris tetap aktif menulis dan menyebarkan gagasan. Sejak 2008, ia menuangkan pemikiran ideologi anarko melalui berbagai platform digital seperti Kaskus, Blogspot, dan Facebook. Tulisan-tulisannya berisi kritik terhadap kuasa, kemapanan, dan praktik sosial yang kerap diterima tanpa pertanyaan.
Melihat keseluruhan lintasan tersebut, Aris Kharisma tidak dapat direduksi dalam satu identitas tunggal. Ia bukan hanya MC, bukan sekadar pengelola radio, dan bukan semata penulis gagasan. Ia merupakan bagian dari sejarah kultural Garut, tempat musik keras, budaya jalanan, media independen, dan ideologi bertemu serta saling menguatkan.
Jejak Aris Kharisma menunjukkan bahwa perubahan kultural tidak selalu lahir dari panggung besar atau simbol formal, melainkan dari kerja panjang yang konsisten—di antara distorsi musik dan frekuensi siaran, di antara jalanan dan ruang gagasan.
