Ruangrakyatgarut.id 01 Februari 2026 — Konflik berkepanjangan di Jalur Gaza kembali menyita perhatian dunia internasional seiring meningkatnya jumlah korban sipil akibat eskalasi kekerasan yang terus berlangsung. Di tengah perdebatan global, muncul narasi yang menyebut penderitaan warga Gaza sebagai dampak dari ambisi religius. Namun, para pengamat menilai pandangan tersebut terlalu menyederhanakan konflik yang memiliki akar sejarah dan politik yang kompleks.
Sejumlah analis hubungan internasional menegaskan bahwa konflik Israel–Palestina tidak dapat dilepaskan dari persoalan perebutan wilayah, identitas nasional, serta dinamika politik regional dan global yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad. Faktor agama memang kerap muncul dalam retorika dan simbol yang digunakan pihak-pihak yang berkonflik, tetapi bukan satu-satunya penyebab utama kekerasan.
Di Gaza, dampak konflik paling besar dirasakan oleh warga sipil. Infrastruktur dasar seperti rumah sakit, sekolah, dan permukiman padat penduduk mengalami kerusakan parah. Kondisi ini memperburuk krisis kemanusiaan yang ditandai dengan keterbatasan akses air bersih, layanan kesehatan, dan kebutuhan pokok lainnya.
Organisasi kemanusiaan internasional berulang kali menegaskan bahwa mayoritas korban adalah masyarakat sipil yang tidak terlibat langsung dalam konflik bersenjata. Mereka menekankan pentingnya perlindungan warga sipil sesuai dengan hukum humaniter internasional, terlepas dari latar belakang politik maupun agama.
Sementara itu, narasi religius kerap digunakan sebagai alat legitimasi politik oleh sebagian aktor konflik untuk memperkuat dukungan internal. Pengamat menilai, penggunaan narasi tersebut justru berpotensi memperpanjang konflik dan mengaburkan fokus utama pada penyelesaian damai dan perlindungan kemanusiaan.
Pemerintah dan komunitas internasional terus didorong untuk mengambil langkah konkret guna mendorong gencatan senjata berkelanjutan serta membuka jalur bantuan kemanusiaan. Upaya diplomatik dinilai menjadi kunci untuk menghentikan siklus kekerasan yang terus berulang.
Dengan kompleksitas yang ada, para ahli menekankan pentingnya melihat konflik Gaza secara menyeluruh dan proporsional. Penderitaan warga sipil tidak dapat disederhanakan sebagai akibat satu faktor tunggal, melainkan hasil dari konflik multidimensi yang membutuhkan solusi politik, kemanusiaan, dan internasional secara bersamaan.
