Ruangrakyatgarut.id – Tanggal 10 April menjadi momentum penting untuk mengenang sosok perempuan visioner asal Garut, Raden Ajoe Lasminingrat, tokoh besar yang membuka jalan bagi pendidikan dan literasi perempuan di Tatar Sunda pada masa kolonial. Ia adalah putri dari R.A.A. Wiratanudatara II, Bupati Garut pertama, sekaligus perempuan pertama yang menerjemahkan berbagai karya Eropa ke dalam bahasa Sunda.
Raden Ajoe Lasminingrat lahir pada tahun 1854 dan dikenal memiliki kemampuan literasi yang jauh melampaui perempuan seusianya pada masa itu. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga terpelajar dan mendapatkan akses pendidikan yang sangat terbatas pada era kolonial, namun mampu memanfaatkannya secara maksimal untuk membangun kecerdasan dan wawasan.
Sejak usia muda, Lasminingrat sudah menunjukkan bakat luar biasa dalam menulis dan membaca. Ia belajar langsung dengan sejumlah tokoh Belanda dan menguasai bahasa asing, sebuah kemampuan yang sangat langka bagi perempuan Nusantara pada masa itu. Keterampilan inilah yang kelak memperkuat posisinya sebagai penerjemah karya-karya pendidikan dari Eropa.
Pada akhir abad ke-19, Lasminingrat menerjemahkan sejumlah buku anak-anak Eropa ke dalam bahasa Sunda. Karya-karya tersebut tidak hanya berupa terjemahan literal, melainkan telah disesuaikan dengan nilai dan budaya lokal, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat. Buku-buku itu kemudian digunakan sebagai bahan ajar di berbagai sekolah bumiputra.
Tidak hanya berkarya melalui tulisan, Lasminingrat juga mengambil langkah nyata dengan mendirikan sekolah khusus perempuan di Garut. Di lembaga ini, ia mengajarkan membaca, menulis, menjahit, hingga keterampilan rumah tangga produktif yang membuka peluang baru bagi perempuan untuk berkembang.
Gerakan pendidikan yang dirintisnya menjadi terobosan besar pada masa ketika perempuan masih berada dalam batasan adat dan struktur kolonial. Melalui literasi, Lasminingrat menjadi pelopor emansipasi perempuan Sunda jauh sebelum gelombang kebangkitan perempuan Indonesia menguat secara nasional.
Kontribusinya membuat Lasminingrat dihormati sebagai pelopor pendidikan perempuan Sunda, sejajar dengan tokoh-tokoh besar seperti R.A. Kartini dan Dewi Sartika. Jejak perjuangannya bahkan 7menjadi referensi penting dalam perkembangan pendidikan di Priangan dan Jawa Barat.
Setiap tanggal 10 April, masyarakat Garut memperingati kiprahnya melalui berbagai kegiatan literasi, diskusi sejarah, hingga penghormatan simbolik. Peringatan ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya peran perempuan dalam membangun peradaban melalui pendidikan.
Warisan Lasminingrat tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi terus hidup dalam semangat pendidikan masyarakat Garut. Nilai perjuangannya menjadi inspirasi bagi perempuan masa kini bahwa perubahan besar dapat lahir dari ketekunan, kecerdasan, dan keberanian.
Hari ini, 10 April, bukan hanya menjadi hari mengenang tokoh besar masa lalu, melainkan juga seruan untuk melanjutkan perjuangan Lasminingrat dalam membangun generasi yang cerdas, berdaya, serta memiliki kecintaan pada ilmu dan budaya.
